Kreativitas Sebagai Manifestasi Jati Diri Dalam Pendidikan

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Agus P
Jumat, 16 September 2005 11:28:14 Klik: 7262
Suatu perwujudan dari aktivitas kehidupan manusia sering kita namakan kebudayaan atau peradaban manusia, yang mencakup filsafat (pikiran) mengenai logika, etika, dan estetika, ilmu pengetahuan sebagai metoda, teknologi yang merupakan aplikasi ilmu pengetahuan dan seni sebagai ungkapan estetis.

Dalam aspek kehidupan, peranan manusia sebagai makhluk berakal dipengaruhi dua aspek yaitu aspek alamiah, meliputi letak geografis, kemampuan, pendidikan, dan kekayaan alam. Sedangkan aspek sosial meliputi aspek ideologi, politik, sosial budaya dan hankam.

Sesuai dengan tingkat perkembangan dan pendidikan manusia sebagai manifestasi (pencerminan) jati diri sebagai ekspresi, pencernaan pribadi dan tanggapan dalam penciptaan baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakatnya maka diperlukan sikap manusia dalam menopang proses kreatif sebagai pencerminan jati diri.

Dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan yang dilanda arus informasi yang semakin deras, memungkinkan adanya komunikasi dengan dunia luar, sehingga kreativitas akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan akselerasinya.

Pendidikan kreatif merupakan wahana penyaluran ideologi setiap insan manusia, dimana dalam membentuk jati diri yang mandiri.

Kreativitas

Sudah tidak asing lagi masalah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari, namun kita selalu mempersoalkannya, baik di lingkungan pendidikan maupun sosial kemasyarakatan.

Masalah kreativitas sangat dipengaruhi oleh kemampuan kreatif, dimana orang hanya mementingkan ratio dan logika saja sehingga akan kehilangan identitas kreatifnya.

Kreativitas sebagai suatu proses, hal ini tidak hanya dimiliki oleh anak genius, seniman, dewasa, penemu saja akan tetapi setiap manusia memilikinya. Seperti tiap-tiap manusia memiliki ratio dan fisik, akan tetapi berbeda tingkat intensitasnya karena setiap tindak (sikap) manusia pada hakekatnya merupakan integrasi dari ketiga tingkat kemampuan, fisik, rasio, dan kreativitas.

Dalam pertumbuhan dan perkembangan pada orang dewasa peranan fisik tidak begitu penting dan setiap rangsang untuk bertindak kreatif lebih cenderung dipahami secara rasional. Sedang dalam pendidikan selama ini masalah kreativitas dalam mengembangkan rasio dan penemuan inovasi baru.

Kreativitas dalam proses kreatif penciptaan diperlukan adanya kematangan pribadi dan integrasi dengan lingkungan yang meliputi sarana, keterampilan, orisinalitas, sebagai ungkapan dan identitas yang khas. Disinilah kreativitas merupakan salah satu kemampuan manusia yang dapat membentuk kemampuan-kemampuan lainnya baik kematangan pribadinya dan integrasi dengan lingkungannya hingga tercipta sesuatu yang baru atau yang lebih baik.

Kreativitas menurut Agus Sachari (1986, 86) bahwa kreativitas diakui sebagai dorongan jiwa dalam. Sehingga dengan kreatif manusia mempunyai gairah, semangat, vitalitas, cita-cita, dan proyeksi masa depannya. Tetapi kenyataannya tidaklah cukup hanya sekedar kreatif. Manusia juga mendambaklan rasionalitas dan begitu amat penting, sehingga apapaun yang dianggap bertentangan dengannya dianggap keliru, dalam denais rasionalitas terasa begitu pentingnya sebagai pengontrol kreativitas.

Dari uraian pendapat tersebut antara kreatif sebagai dorongan jiwa dalam juga pentingnya peranan rasio sebagai pengontrol kreativitas, yang pada hakekatnya rasio dan kreatif merupakan unsur utama.

Perkembangan lebih lanjut proses kreatif yang dikutip Agus Sachari menurut Tuti Noerhadi bahwa kreatif agaknya merupakan suatu pengertian yang serupa dengan zat pelezat, menambah rasa tetapi tidak menambah gizi. Pandangan ini cukup ekstrem yang dikaitkan dengan usaha manusia untuk memanipulasi dunia, yang seolah-olah imitasi dan bersifat glamour seperti digambarkan tentang mobil Jepang dimana onderdilnya lama tetapi bajunya baru setiap periode.

Ditegaskan lebih lanjut arti kreativitas itu tidak hanya sekedar mencuat sebagai usaha mengatasi kesulitan, tapi juga berarti memperjuangkan hidup itu sendiri. Kreatif itu akan mencapai bentuknya yang terakhir dengan hukum bagi dirinya sendiri.

Manifestasi

Suatu penciptaan tidak terjadi dalam kekosongan, karena mencipta berarti inspirasi lahir suatu penciptaan berdasarkan kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Disinilah penciptaan diharuskan menciptakan sesuatu yang asli dalam arti tidak meniru.

Segala manifestasi bathin dan pengalaman estetis itulah yang akan melahirkan penciptaan yang pribadi atau punya jati diri. Dalam hubungannya dengan seni, suatu hasil seni yang baik bukanlah suatu manifestasi yang sembarangan, mencipta asal jadi demikian ungkapan Sudarmaji (1973, 19). Ditegaskan lebih lanjut suatu karya seni dilahirkan karena dorongan yang menyeluruh, kuat dan banyak segi.

Dari uraian tersebut diatas bahwa manifestasi dari cerminan pribadi (kematangan pribadi) dapat kita lihat melalui pengalaman bathin seniman, yang diekspresikan kedalam karya seni yang berbeda-beda dari tiap personal sesuai pengalamannya.

Jadi disini jelas bahwa suatu pendirian yang mengatakan bahwa manifestasi karya seni adalah manifestasi personal.

Dalam penciptaan mengandung makna manifestasi suatu sesuatu dengan sesuatu yang ada, yang mempunyai arti dan nilai baru. Proses penciptaan dalam seni adalah merupakan perpaduan dari faktor internal dan eksternal yang banyak dipengaruhi oleh pribadi seniman sebagai manifestasi yang khas dengan gaya masing-masing sebagai bentuk yang kreatif.

Jati Diri

Seperti apa yang telah diterangkan diatas bahwa jati diri adalah merupakan gambaran yang dimiliki manusia mengenai pribadi dan kemampuannya.

Sudarmaji mengutip seorang sarjana antropologi Amerika Ralph Linton tentang kepribadian menyatakan bahwa kepribadian itu secara primair adalah suatu konfigurasi dari respon-respon yang dikembangkan oleh individu sebagai hasil dari pengalamannya. Sebaliknya pengalaman itu adalah sebagai akibat dari hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Selanjutnya kutipan Sudarmaji (9173, 36) teori Alpert Gordon W. Ph.D menunjukkan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistim psykofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, yang dimaksudkan adalah :

  1. pernyataan organisasi dinamis, menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah, walaupun dalam pada itu ada organisasi sistem yang meningkat dan berhubungan dengan komponen kepribadian.
  2. Istilah psykofisis menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah pula ekslusif (semata-mata) neural, organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak terpisah-pisahkan) dalam kesatuan pribadi.
  3. Istilah menentukan menunjukkan bahwa peranan aktif tenden-tenden determinasi yang memungkinkan peranan aktif dalam tingkah laku individu. Kepribadian adalah sesuatu kepribadian terletak dibelakang perbuatan khusus dan didalam individu. Dari apa yang dikemukakan diatas itu nyata bagi Allport kepribadian bukanlah hanya susunan si pengamat, bukan pula sesuatu yang ada selama ada orang lain yang bereaksi terhadapnya. Jauh dari itu kepribadian mempunyai eksistensi riel termasuk juga seni neural dan fisiologisnya.
  4. Satu unsur lain yang penting dalam defenisi diatas adalah kata khas (unik) yang menunjukkan tekanan utama yang diberikan oleh Allport
  5. Dengan menyatakan menyesuaikan diri dengan lingkungan Allport menunjuk keyakinan bahwa kepribadian meng-antarai individu dengan lingkungan fisis dan psykologisnya. Jadi kepribadian adalah suatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan,

Teori-teori kepribadian itu memang teoritis sekali, untuk seniman kreatif yang sekedar ingin memahami, bahwa kerja yang berkepribadian dan dianggap baik itu yang bagaimana ?. Jadi kepribadian yang kuat dalam proses interaksi antar pribadi (diri) dengan lingkungannya tidak terlepas dari pengaruh, akan tetapi keterpengaruhannya mempunyai ciri yang khas, sehingga dapat dengan mudah dibedakan antara kepribadian yang satu dengan yang lainnya.

Dalam seni rupa banyak bentuk, sapuan kuas, dalam memilih tema dan sebagainya. Primadi (1978) mengatakan bahwa didalam citra manusia memiliki tiga kemampuan utama yaitu kemampuan fisik, kemampuan kreatif dan kemampuan rasio, hanya berbeda dalam perimbangannya pada tiap manusia, karena tak ada duanya manusia yang sama (persis).

Ketiga kemampuan tersebut adalah sebagai rusuk utama, dan perasaan gerak imajinasi sebagai rusuk-rusuk alas (dasar) berpikir merenung, belajar yang menjadikan satu kebulatan, suatu keseluruhan, suatu totalitas integrasi dari semua rusuk utama dan rusuk dasar.

Tiap tindak manusia kecuali pada hakekatnya sedikit banyak merupakan integrasi kerja sama dari rusuk-rusuk, terutama kemampuan kreatif, kemampuan fisik dan kemampuan rasio. Jadi kemampuan utama dan rusuk dasar tidak dapat berdiri sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan dengan yang lain, yang akan menghasilkan kata hati (intuisi ) yang bersifat individual dalam mempengaruhi aktifitas kegiatan dan berpengaruh dalam pengalaman manusia sebagai pencerminan kepribadian, kemampuan dan pengalaman.

Kedalaman intuitif intuisi dari integrasi keseimbangan tadi sering kita namakan sebagai proses kreatif (kreasi). Dalam kaitannya dengan kreativitas dalam penciptaan karya seni, sangat ditentukan oleh sifat-sifat pribadi seniman baik mengenai kepekaan indrawinya terhadap alam maupun perasaan yang mendalam tentang yang baik dan indaah dan kemampuan membentuk perasaan dan baham menjadi suatu karya seni sebagai perujudan jati diri.

Kreativitas, Jati Diri, Dan Pendidikan

Dari beberapa uraian masalah diatas dapat kita serap suatu pengertian dan persepsi bahwa kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru atau lebih baik dari kehidupannya dan jati diri sebagai pengggerak utama yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia dalam bersikap, bertindak, dan memutuskan.

Jati diri akan melahirkan suatu ciri yang khas sebagai gaya perseorangan, hal ini erat sekali dengan kreativitas sebagai manifestasi. Dikatakan erat sekali karena salah satu kemampuan kreatif merupakan bagian yang integral dari jati diri manusia.

Lintasan sejarah seni rupa di dunia sejak zaman Renaissance menunjukkan peranan individu dalam menciptakan karyanya, gaya perseorangan lahir secara individu. Dalam dunia pendidikan pengembangan dan motivasi kearah kreativitas perlu dikembangkan, dengan demikian ciri-ciri pribadi atau behavior karakteristik sangat dipengaruhi oleh kematangan pribadi dan lingkungan akan berbeda tiap-tiap manusia dalam pertumbuhan, perkembangan, dan tingkat kreativitasnya.

KEPUSTAKAAN

  • C.A. Van Peursen Prof. Dr, Strategi Kebudayaan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1976.
  • Munandar Utami, Prof. Dr. S. C, Kreativitas Sepanjang Masa, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1988.
  • Primadi, Proses, Kreasi, Apresiasi, Belajar, Penerbit ITB Bandung. 1978.
  • Sachari Agus, Desain Gaya dan Realitas, diterbitkan dan bekerjasama dengan INDES kelompok studi desain, Jurusan Desain ITB, Rajawali, Jakarta, 1986.
  • __________, Paradigma Desain Indonesia, Rajawali, Jakarta, 1986.
  • Sudarmaji. Drs, Dasar-dasar Kritik seni Rupa, STSRI "ASRI"?, Yogyakarta, 1973.

 
Berita Pendidikan Lainnya

Video Pilihan


Karya siswa multimedia SMKN 4 Padang - Juara 3 Iklan ...

Membuat Kalimat Capaian Pembelajaran di SISFO SMK4 ...

Saka Pandai Sikek ...

SMKN 4 PADANG TERPILIH SEBAGAI SEKOLAH PUSAT KEUNGGULAN

Tutorial Sketchup membuat Desain Bangku/Kursi Untuk ...

Dirjen Pendidikan Vokasi Bapak Wikan Sakarinto ...

Cover lagu Tenang - Yura Yunita

Film Animasi No Mercy Karya siswa SMKN 4 Padang
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test