Museum Seni Rupa Pintu Gerbang Pariwisata Sumbar

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Muharyadi
Kamis, 02 Juni 2005 15:16:43 Klik: 2593
Kondisi realitas kehidupan seni rupa yang terjadi selama ini dinilai menjadi marginal ditengah-tengah masyarakat di Sumbar sebenarnya menjadi tanggungjawab semua pihak termasuk jajaran birokrat kita yang secara sengaja maupun tidak turut memarginalkannya. Padahal pondasi sebuah bangsa tidaklah selalu diukur dengan IKM atau IKP semata, tetapi juga pada seni budaya termasuk seni rupa dan kerajinan di dalamnya.

Akibatnya pembangunan seni rupa kurang mendapat perlakuan yang wajar bila dibandingkan sektor lain, contoh itu terlihat dalam berbagai kebijakan yang diambil tidak mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan kelompok masyarakat seni rupa di dalamnya, hingga ia selalu mendapat rangking terakhir, apalagi soal pengalokasian dana pembinaan dan pengembangannya di Sumbar belum berpihak pada sektor ini.

Pada sisi lain Drs. Adirozal, Msi juga menyoal ; Sumbar sebagai salah satu basis seni rupa di tanah air selain Yogyakarta dan Bali, suka atau tidak sudah masuk dalam "pergaulan global"? akibat arus infromasi dunia yang dapat diakses setiap saat ditandai masuknya wisatawan mancanegara dan domestik. Namun bila tidak disiasati dengan arif dan bijaksana oleh semua pihak dan kalangan, maka bisa jadi budaya daerah sebagai jati diri menjadi hilang begitu saja, seperti bak pepatah ; "Jalan diasak urang lalu, cupak dituka urang panggaleh"?.

Di Sumbar potensi seni rupa sangat banyak dan variatif yang tersebar dimana-mana, baik berupa fine art (lukisan, patung) dan applied art (kerajinan tenun, songket, sulaman, kerajinan pandan/rotan, keramik dan lainnya) yang secara umum disebut artefac dari berbagai daerah yang menjadi feed back obyek kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik sebagai obyek pengamatan visual, koleksi maupun souvenir usai mengunjungi daerah ini.

Persoalan sekarang, bagaimana para seniman dan pengrajin dapat hidup, tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat dan pembangunannya hingga mereka tak lagi berjalan sendiri-sendiri seperti terjadi selama ini. Mengingat kecendrungan di Sumbar selama ini seniman hanya mampu menghidupi karya-karyanya dan jarang sekali karya-karya yang dihasilkan dapat menghidupi mereka.

Jika saja berbagai kalangan, baik pemerintah, swasta dan orang-orang berduit mau mengoleksi karya-karya para seniman Sumbar, baik untuk keperluan estetika maupun interior perkantoran, gedung-gedung bertingkat, biro-biro perjalanan, bandara/pelabuhan, lokasi-lokasi strategis, rumah-rumah mewah mulai dari propinsi hingga ke masing-masing Pemko/Pemkab, maka kehidupan seni rupa makin terasa denyut dan gezahnya yang dapat memperkaya pembangunan sektor seni budaya, pariwisata dan wajah daerah yang berjati diri.

Kecuali seniman urang awak di Yogyakarta, Jakarta dan Bali yang ratusan jumlahnya ternyata hidup layak dengan karya-karyanya. Bukan itu saja, dalam seni murni seniman urang awak selain sukses berkarya mereka juga berada dalam deretan peta seni rupa tanah air ditengah-tengah persaingan seni rupa nasional yang kian mengglobal. Kalau pengrajin jangan ditanya lagi, sebab hampir 30 persen di pulau Jawa terrnyata urang awak, diantaranya ada yang sudah menjadi eksportir souvenir berkelas internasional. Tapi dengan hanya menyebut keberhasilan tersebut tanpa mengakses kepentingan kedaerahnya asalnya adalah sebuah pemubaziran, bagaimana pun mereka sudah menjadi aset daerah lain, ujar pelukis Amrianis dengan nada risau.

Kini di Sumbar, kecuali pengrajin yang selama ini hidupnya nyata-nyata senin-kamis di Sumbar, kebanggaan semu yang dapat seniman manakala sukses mengikuti berbagai event pameran dan festival diikuti pengkoleksian karya-karya baik di tingkat regional, nasional bahkan internasional. Tapi ini semua sifatnya lebih situasional.

Untuk mengakomodasi kepentingan pembangunan seni rupa di Sumbar yang sejak era kemerdekaan, pasca kemerdekaan bahkan hingga kini, telah dikenal, baik karya maupun ketokohannya dalam perjalanan peta seni rupa Indonesia. Maka perlu dibangun museum seni rupa refresentatif guna kelangsungan berseni rupa !

Konstribusi terpenting kemudian, bagaimana mengkongkritkan pembangunan museum seni rupa sesegera mungkin yang di dalamnya memuat banyak fungsi dan peran diantaranya, sebagai sumber informasi seni dan budaya, wadah menambah dan memupuk apresiasi masyarakat, tempat pembelajaran dan penyelamatan karya seniman, wadah penghargaan prestasi seni yang dicapai seniman, baik yang berskala daerah, nasional bahkan internasional sekaligus pintu gerbang pariwisata Sumbar di mata Nasional dan Internasional. (***)

Sumber : Harian Pagi Padang Ekspres, Selasa, 31 Mei 2005 hal 8

 
Berita Wawasan Seni Lainnya

Video Pilihan


Peringatan Hari Ulang Tahun SMKN 4 Padang ke 57

Behind The Sound SURGA UNTUK MAMA

Kucing Ayu Asri

Tutorial Sketchup membuat Desain Bangku/Kursi Untuk ...

SMKN 4 PADANG BEKERJA SAMA DENGAN TNI UNTUK MENCIPTAKAN ...

Saka Pandai Sikek ...

Herisman Tojes Pelukis Nasional Surealisme dari SMKN 4 ...

Masjid Tuo Kayu Jao - masjid tertua di Indonesia
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test