MENERAWANGI SENI RUPA SUMBAR HARI INI

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Erianto, S.Pd
Kamis, 13 April 2006 18:07:43 Klik: 2378
Apa yang terjadi dengan seni rupa Sumbar hari ini? Kalau melihat gejala yang terjadi tampaknya seni rupa Sumbar sedang menabrak tembok-tembok yang selama ini mencengkramnya: tembok-tembok akademis, tembok-tembok sosial, nasehat-nasehat konvensional. Singkatnya, sakralitas seni rupa Sumbar saat ini sepertinya sedang runtuh atau diruntuhkan.

Siapa yang meruntuhkannya? Kebanyakan dari mereka adalah perupa-perupa muda yang akhir-akhir ini sangat intens berkarya dan mengikuti event-event pameran baik di Sumbar maupun di luar daerah. Diantara mereka dapat kita sebutkan beberapa nama seperti: Herisman Tojes, Dwi Agustyiono, Amrianis, Zirwen Hazry, Sami Batubara, Irwandi, Iswandi, Firdaus, Rajudin, dst. Disamping berkiprah secara pribadi, ada juga yang tergabunbg dalam kelompok-kelompok seni rupa seperti Pentagona, Belanak, Getar, dsb. Tampilan karya mereka, baik dari segi ide, bentuk, media maupun pengggarapannya tampak semakin lincah dan tanpa beban, seakan kan hendak bertutur bahwa bahwa berkesenian itu ternyata bukan ruang yang penuh dengan rambu-rambu, tetapi justru sebaliknya. Ruang kreativitas itu adalah ruang kososng di mana rambu-rambu dan aturan mainnya dibuat oleh seniman itu sendiri. Dialah sang sutradaranya. Bukan sebaliknya seperti yang selama ini sering disalah-pahami bahwa seorang perupa misalnya harus mengikuti aturan-aturan yang dicekokkan untuk diikuti.

Dari gejala yang muncul ke permukaan, semakin tampak bahwa akhirnya seni adalah ruang pribadi seorang seniman, bukan ruang sosial. Seni adalah wadah ekspresi diri yang sangat pribadi. Persoalan dengan apa dan bagaimana cara mengungkapkannya juga merupakan kreativitas dan pilihan pribadi. Karena itu pembicaraan yang memberikan syarat-syarat pada sebuah karya seni agaknya menjadi kurang relevan. Bukankah perbincangan dan perdebatan tentang seni selama berabad-abad hingga kini tak pernah bertemu dalam suatu rumus baku. Mungkin suatu zaman dan komunitas tertentu pernah dianut sebuah acuan. Tetapi begitu zaman bergeser acuan itu dikoyak oleh laju kreativitas dan perubahan zaman. Akhirnya disusun lagi acuan baru yang dianggap memadai, tetapi kembali lagi acuan itu dikoyak perubahan zaman. Begitulah seterusnya. Kalau hendak dirumuskan mungkin hanya ada satu acuan, yaitu tidak adanya acuan.

Jika demikian halnya, apakah seni menjadi sebuah pulau asing yang tak mungkin dijamah? Seperti juga dengan segmen kebudayaan lain, ada variasi kepekaan dan selera terhadap karya seni. Affandi pernah berucap bahwa seni bukan soal bagus tidak bagus, tetapi adalah masalah selera. Sepanjang seni sudah bisa menyentuh dan dinikmati orang berarti seni sudah berada di jalurnya. Seni memang bukan untuk membuktikan sesuatu, seperti yang terjadi dengan hasil penemuan dan karya ilmiah. Meminjam istilah Putu Wijaya, seni (sastra) adalah untuk menyadarkan manusia bahwa ia sebenarnya adalah seorang manusia. Artinya seni hadir untuk mengetuk kesadaran kemanusiaan kita, yang sering terlupakan dan terasing oleh berbagai kompleksitas kehidupan.

Lalu apakah sia-sia belaka segala omong-omong kita tentang sebuah karya seni? Tentu saja tidak jika pembicaraan itu dimaksudkan sebagai usaha untuk membongkar makna yang terkandung dalam sebuah karya seni. Dalam istilah semiotika, pembicaraan (kritik) terhadap karya seni berarti usaha untuk memahami simbol-simbol (tanda) yang dimunculkan seorang seniman dalam karyanya. Dalam seni rupa misalnya, seorang perupa adalah seorang bisu yang berbicara dengan unsur-unsur visual. Maka semiotika menjadi alat yang membantu untuk menafsirkan tampilan visual sebuah karya seni rupa. Apa sih yang ingin disampaikan Perupa lewat karyanya? Jadi bincang-bincang tentang karya seni lebih sebagai upaya kreatif dalam memahami bahasa ungkap seorang perupa, bukan untuk membatasi apalagi menghakimi bahasa ungkapnya.

Jika ini dimaklumi, apakah masih mungkin memberikan batasan apalagi peringkat terhadap sebuah karya seni? Apakah tampilan yang satu lebih baik dan bernilai dari yang lain? Apakah lukisan abstrak lebih intelek dari lukisan naturalis misalnya? Apakah lukisan surealis lebih mendalam dari lukisan realis? Meskipun tidak diumumkan, ternyatahirarki itu memang terjadi dan seolah-olah sudah menempel kuat di alam bawah sadar kita dan masyarakat. Tetapi bertolak dari pluralisme budaya, akhirnya mungkin kita harus mendarat pada kesadaran bahwa itulah realitas pasar. Pasar dalam arti penggemar karya seni. Mereka tersebar dalam banyak segmen, mulai dari yang sungguh-sungguh sebagai apresian sampai yang hanya sekedar komersialisasi karya seni. Mungkin tidak hanya pasar. Tiga orang kurator saja misalnya mungkin akan mengatakan hal yang berbeda terhadap lukisan yang sama. Artinya, suka tidak suka, begitu sebuah karya seni dihasilkan ia akhirnya harus meluncur melewati pasar. Jadi impian untuk memberikan standar baku terhadap karya seni hanyalah sebuah ilusi belaka. Lalu apa yang tersisa?

Baru-baru ini (Desember 2006) di Taman Budaya Padang digelar pameran seni rupa dengan judul Big in Pluralism. Dari tajuk pameran tersebut tergambar bahwa ada kesadaran untuk mengakui keberagaman.. Inilah yang menjadi kunci tulisan ini, bahwa akhirnya mungkin keberagaman itulah kosa kata kita hari ini. Meminjam istilah Lyotard, seorang Postmodernis Perancis, zaman ini adalah zaman runtuhnya narasi besar. Runtuhnya klaim-klaim absolut, pudarnya rumus-rumus baku. Nafsu untuk melakukan generalisasi di zaman ini mungkin akan dianggap sebagai kecerdasan primitif oleh kaum postmodernis. Yang paling mungkin kita akui hari ini hanyalah permainan bagian-bagian. Itulah pluralisme budaya. Mungkinkah wajah seni rupa Sumbar hari ini sudah demikian?

Biaro, 9 Januari 2006

 
Berita Wawasan Seni Lainnya

Video Pilihan


DIRGAHAYU SEKOLAHKU SSRI, SMSR, SMKN 4 PADANG YANG KE ...

Wooden Boy - Film Animasi karya siswa SMKN 4 Padang

Terakhir - VideoClip

MPLS SMKN 4 PADANG

SMKN 4 PADANG BEKALI SISWA UNTUK TERJUN KEDUNIA ...

Pematung Besar Diakui Dunia YUSMAN SSn- Alumni SMSR ...

Sahabat dan Cinta - Film Pendek - Meraih Nominasi AFI ...

Desain Interior dan Teknik Furnitur SMK N 4 Padang
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test