Imajinasi Yang Melesat Tinggi

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Linda Purnawati
Selasa, 29 Mei 2007 18:25:09 Klik: 3171
Inggrid Haryana B
Klik untuk melihat foto lainnya...
Sumatera barat boleh berlega hati, dengan munculnya seorang pelukis wanita, Inggrid Haryana B. Dalam usianya 10 tahun Ingrid sudah mulai mengasah kemampuan melukisnya, melalui pameran tunggal yang digelar di taman Budaya Propinsi Sumatera Barat dari tanggal 23-29 Agustus 2006.


Terlahir dari pasangan Ir. Beni Haryanto (Ayah) dan Nur Asna, A.Ma Pd (Ibu) sejak dari usia 2 tahun Inggrid sudah menunjukkan bakat, melalui coret moret di kertas, sampai dinding rumah sebagai ungkapan mediator lukisnya.



Melalui karya yang dipamerkan, lebih dari 100 lukisan Inggrid mampu merekam berbagai objek melalui dunia “ mungkin “ atau dunia “ Singgah “ yang mampu dimunculkan melalui garapan yang khas lewat media pentel.


Untuk siswa yang masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar Negeri 09 Bandar Buat, Lubuk Kilangan Padang ini Pameran tunggal adalah salah satu obsesinya. Ingrid ingin lukisannya dinikmati oleh banyak orang, tidak hanya sebatas pada teman-teman dan kerabat terdekat saja. Puluhan piala dan penghargaan sudah ia peroleh, baik tingkat kota Padang. Regional dan Nasional. Ingrid ingin karyanya di Apresiasi oleh banyak orang.


Mencermati karya Ingrid, adalah menikmati sebuah dunia riang, penuh canda dan kaya akan warna. Dalam pengamatan saya Ingrid begitu kuat merekam hal-hal yang pernah singgah dalam kehidupannya. Ini terlihat jelas pada beragamnya Objek dan tema yang Ia sampaikan melalui lukisan yang dipamerkan.

 

Kekuatan Ingrid dalam merekam lingkungan sekitar terlihat pada lukisan berjudul Hoyak Tabuik, Babendi, Balai Kota Padang, ke Sari Anggrek dan rumah nenek. Kita menikmati kemampuannya dalam harmonisasi, keteraturan Sub- Objek dan kepiawaian mengolah warna-warna terang.


Memasuki lukisan Ingrid Haryono B, adalah memasuki dunia anak. Seperti kita ketahui bahwa dunia anak adalah sebuah dunia yang dipenuhi dengan keceriaan. Rasa gembira, serta Fantasi yang melesat tinggi bagai mimpi. Seburuk apapun kondisi yang terpampang dihadapan seorang anak akan tetap menjadi sebuah kondisi yang indah, ceria, karena dunia anak memandang dengan “kaca mata polosnya “ “ harapannya “ dan “fantasinya”.


Saya lama berdiri tepat di depan hamparan lukisan Ingrid dengan Judul “ Ngarai Sianok 2030”. Lukisan berukuran 80 x 60 cm tersebut menarik saya untuk tamasya bathin ke masa depan tahun 2030, di mana Ngarai Sianok sebagai salah satu objek wisata terkenal di Sumbar, di tengah Ngarai telah berdiri hotel bintang lima. Kaya seakan dibangunkan dari mimpi bahwa, Ngarai Sianok yang bagi para pelukis senior Sumatra Barat, senantiasa dihadirkan dalam lukisan dengan rupa elok bagai disurga , tanpa ancaman lingkungan erosi, limbah atau tatanan perumahan yang kian padat, bahwa ngarai Sianok juga berkaitan dengan banyak kepentingan. Di tangan Ingrid ngarai Sianok tidak lagi sebatas pemandangan alam yang indah permai, damai sejahtera. Saya takjub dan bergumam, betapa tingginya Imajinasi dunia anak.

Menikmati suasana lain dari latihan Ingrid dengan judul “Hoyak Tabuik” warna-warna ceria adalah wakil dari suasana kegembiraan, merah kuning, hijau adalah wakil dari kemeriahan suasana yang terekam melalui objek. Mewakili Sumatera Barat, juga ada marawa dan umbul-umbul dengan warna hitam, merah dan kuning. Dimeriahkan dengan tari piring dengan latar belakang rumah adat dan pantai diwakili dengan warna biru.


Pada bagian langit saya menikmati kibaran bendera di bawa oleh sebuah pesawat kecil yang dibawa seorang pemuda. Saya mengamati lebih lanjut bahwa hampir dalam setiap lukisan yang bertemakan tentang keramaian, Ingrid senantiasa mengibar bendera merah putih dan marawa hitam, kuning, merah. Hal ini menandakan jiwa cinta tanah air, cinta daerah,. Ingrid kecil dalam usia 10 tahun telah menyamai semangat patriotisme dalam lukisannya saya membayangkan jika karya-karya Ingrid di usung keluar negeripun, orang akan tau bahwa “ini adalah Indonesia” negeri penuh dengan ragam budaya, tidak senantiasa dipenuhi oleh busung lapar, BOM atau demo dimana-mana.


Membaca dunia dan ekspresi kanak-kanak, tidaklah pantas kalau kita tidak menanggalkan logika sejenak. Keserasian profesional, objektifitas karya, atau suasana yang muncul dalam lukisan dengan judul “ Tsunami”.


Kepekaan Ingrid terhadap tema garapan, kemampuannya untuk menuangkan dalam kanvan saat merekam peristiwa ketika kita membayangkan suasana sesuai judul.

Menyaksikan warna ombak dengan warna biru, setinggi bangunan, orang-orang berlarian, saya membayangkan suasana yang mencekam hiruk pikuk dan kacau balau. Tetapi dalam lukisan Ingrid dengan judul Tsunami tidak memberikan kesan mencekam. Hal ini tentu saja karena warna yang dipakai tetap warna kas Ingrid : merah, kuning, hijau dan biru, sehingga objek yang digambarkan seakan-akan bertentangan dengan warna cerah ceria yang hadirkan. Seperti halnya, bahwa kanak-kanak seburuk apapun itu, ia akan tetap melihatnya dengan kacamata kepolosan yang ceria.


Melukis sacara otodidak, adalah anak yang memiliki kemandirian yang tegar dalam proses cipta rupa, karena lebih ditempa dengan alam dan lingkungannya. Tetapi pada dasarnya bahwa menggambar maupun melukis bagi anak merupakan bagian dari penghalusan budi, karena ia bersentuhan dengan rasa estetik, mengendalikan emosio, membebaskan ekspresi dalam keliaran gais. Dan Ingrid Haryana ( 10 tahun) karya-karyanya yang cenderung dekoratif, menata bidang dengan susunan warna-warni sehingga menimbulkan objek lewat gradasi warna.


Di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang banyak bermunculan sanggar melukis untuk anak. Tetapi sering terkendali dengan sistem pengembangan yang bisa melahirkan “roh” individual anak. Sering kali tanpa disadari anak terpatron dengan penekanan-penekanan yang tersusun dengan baku sesuai teori seni lukis itu sendiri, melalui instrukturnya. Hingga lukisan yang lahir adalah lukisan bercorak seragam, nyaris tanpa “roh” keindividuan.

Kita sering kali terlupa bahwa seorang anak bagaikan busur sebuah anak panah yang meleset ke masa yang akan datang, sungguhpun bersamamu, mereka bukan milikmu, karena hidup mereka ada dimasa depan, jadi jangan pernah memaksakan mereka memakai pikiran mu (Khalil Gihran).


Oleh sebab itu sangat penting anak-anak diberi kemerdekaan dalam menuangkan serta hal-hal yang akan mendukung lahirnya sebuah karya dengan corak khas individu anak sendiri. Dengan demikian maka lahir beragam corak yang ditampilkan anak-anak, dan ini menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Pelukis perempuan Sumatera Barat memang langka, dengan menjamurnya sanggar-sanggar seni lukis anak-anak di Kota Padang tentunya akan lahir karya-karya handal dari pelukis perempuan di masa depan. Ingrid adalah cikal bakal pelukis perempuan Sumatera Barat kedepan. Sekaligus menunjukkan bahwa Sumatera Barat memiliki mata rantai yang jelas tentang seni lukis. Ingrid adalah asset daerah yang berharga.


Tentu tidak cukup hanya menjaga, kita harus sama-sama, satu tujuan, bagaimana seorang maestro. Kita ketahui Indonesia lahirkan terlalu sedikit memiliki seorang maestro. Seorang maestro tidaklah lahir dengan sendirinya. Ia harus dicari, dibentuk di besarkan dan diusung bersama menuju “maestronya”.

Kita bercermin kepada masa lalu bahwa sudahkah kita meriset pembacaan karya-karya seniman kita? Sudahkah ada kesiapan kita untuk mengkaji karya Wakidi atau Samsul Bahar, kemudian mempublikasikan, menyelamatkan dokumennya, membuat museumnya dan mengukuhkannya sebagai maestro? .


Sudahkah ada kesiapan kita untuk membangun politik identitas,, yakni suatu kemampuan mengidentifikasi sejumlah “kekuatan” dan mendiasikannya pada forum dunia yang lebih luas? Sudahkah masyarakat seni rupa Sumatera Barat merapatkan barisan dan memberikan dukungan secara kompak untuk lahirnya seorang maestro? Seperti halnya dengan seorang tokoh politik yang memiliki time sukses yang mengantarkan sang tokoh menuju kursi pimpinan.


Adapun kondisinya, kita banyak belajar dari masa lalu, kita ingin nama seni lukis Sumatera Barat tetap diperhitungkan oleh dunia luar. Dan Ingrid Haryana telah mulainya hari ini.

Padang, 24 Agustus 2006

* Linda Purnawati Guru SMP N. 3 Padang .
 
Berita Berita Pendek Lainnya

Video Pilihan


Wooden Boy - Film Animasi karya siswa SMKN 4 Padang

Official Trailer Surga Untuk Mama

Herisman Tojes Pelukis Nasional Surealisme dari SMKN 4 ...

Kucing Ayu Asri

Film Animasi No Mercy Karya siswa SMKN 4 Padang

Apa kata mereka ...

Peringatan HUT SMKN 4 Padang ke 58

YUK DAFTAR SEKARANG JUGA, SMKN 4 PADANG SEKOLAH PUSAT ...
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test