Membangun Seni Rupa Sumbar Masa Depan

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Yasrul Sami Batubara
Jumat, 10 Juni 2005 01:09:44 Klik: 2905
Ditengah-tengah hiruk pikuknya berbagai pihak dan kalangan serta masyarakat luas membicarakan Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung) di negeri ini yang kini tinggal menghitung hari pelaksanaannya, kalangan seniman seni rupa asal Sumatera Barat dipenghujung Mei 2005 lalu meggelar diskusi seni rupa bertema ; "Membangun Seni Rupa Sumbar Masa Depan"? di salah satu surat khabar harian di kota ini.

Menariknya, diskusi yang menghadirkan sejumlah pakar sebagai nara sumber itu juga dihadiri berbagai komunitas seni rupa, baik yang ada di Sumbar maupun dari pulau Jawa seperti Sakato Yogyakarta dan lainnya serta diselingi pertunjukkan rabab Pesisir Selatan oleh perabab pendukung Sinetron Siti Nurbaya, Marland.

Pada diskusi non formal tapi sangat menarik itu menampilkan nara sumber, antara lain Drs. Adirozal, M.Si (STSI Padangpanjang), Dr. Ir. H. Agus Taher, MS (pemerhati seni), Drs. Muzni Ramanto dan Drs. Yasnur Asri, M.Pd (UNP), Nazar Ismail, S.Sn (SMSR/SMK 4 Padang/Seniman), Gubernur dan DPRD Sumbar serta puluhan seniman seni rupa dan wartawan media massa di daerah ini.

Pemandu diskusi, Drs. Muharyadi menjelaskan, diskusi ini dimaksudkan untuk memformulasikan dunia seni rupa Sumbar sebagai bagian dari budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat agar lebih bersinergi dengan pembangunan yang sedang berjalan dan berkembang.

Sebagai salah satu basis seni rupa di tanah air sejak lama, selain Yogya dan Bali rasanya sangat pantas dan wajar, jika daerah ini memikirkan dunia kesenian seperti seni rupa secara sungguh-sungguh, hingga ia tidak lagi berjalan sendiri-sendiri apalagi dimarjinalkan seperti yang banyak dipersoalkan kalangan pelaku seni, pemerhati seni , media massa dan elemen masyarakat lainnya.

Jika seluruh potensi kesenian Sumatera Barat sebagai aset pembangunan bidang seni budaya termasuk seni rupa di dalamnya, terus digali, dibina dan ditumbuhkembangkan sejalan pembangunan sektor lainnya, kita yakin kondisinya tidak seperti sekarang semuanya jalan ditempat, ditambah lagi kalangan eksekutif dan legislatif daerah ini yang kurang berpihak terhadap kesenian, baik tradisi maupun moderen di daerah ini seperti terlihat dalam berbagai kebijakan yang diambil, tutur sejumlah seniman dikesempatan itu.

Potensi Sumbar Yang Belum Dimaksimalkan

Sejak puluhan silam, bahkan sebelum kemerdekaan RI seni rupa dari kesenian yang ada di daerah ini terasa belum mendapat perlakuan yang adil, arif dan bijaksana dari semua pihak, apalagi dari para pengambil kebijakan di daerah ini. Hingga ada pameo yang kental sampai kini jika ingin berseni rupa secara sungguh-sungguh pergilah ke luar Sumbar, ironis memang, ujar Oktrian Ramli salah seorang peserta diskusi.

Dalam apllied art dari segi kuanttitas dan kwalitas di Sumatera Barat jangan ditanya lagi yang telah melahirkan para pengrajin dan kriyawan yang mengandalkan oral tradition warisan pendahulu. Mereka telah memproduksi benda-benda kegunaan sehari-hari, seperti anyaman pandan, anyaman rotan, tenunan songket, ukiran kayu, tembikar, kriya logam dan lainnya. Tapi kenyataannya mereka kebanyakan tidak berdaya dan justru berjalan sendiri-sendiri karena tidak banyak tersentuh dalam pembinaan dan pengembangan sesuai tuntutan dan perkembangan zaman.

Dalam seni murni (seni lukis, patung dan lainnya), kecendrungan seniman asal Sumbar hanya bisa berkarya dalam wilayah kreativitas dan ranas estetis di daerah sendiri, kecuali bila mereka meninggalkan Sumbar. Kondisi ini mestinya tidak lagi mengemuka, jika kehidupan seni rupa sebagai aset daerah benar-benar tergarap secara utuh serta mendapat pembinaan dan pengembangan yang memadai.

Berbagai persoalan dan dinamika yang berkembang dalam diskusi ini, melahirkan komitmen, bahwa belajar dari kelemahan dan kesalahan masa lalu guna membangun seni rupa masa depan di Sumbar haruslah disertai politicall will yang jelas dari para pengambil kebijakan di daerah ini.

Seniman sebagai manusia biasa di tengah-tengah masyarakatnya, dimana persoalan penciptaan kesenian bukan semata hanya ekspresi estetis yang bersifat individual dan berada di menara gading, tetapi juga merupakan ekspresi dan tanggung jawab sosial seniman pada masyarakatnya. Sikap seperti ini membuat mereka tidak ragu-ragu lagi dalam berkesenian, bekerja dan berkreasi serta dapat hidup layak seperti masyarakat lainnya. Inilah diantara harapan yang terlahir dalam diskusi tersebut.

Museum Mendapat Respon Positif DPRD dan Pemerintah Propinsi

Salah satu pembahasan diskusi yang cukup alot, adalah persoalan perlunya dibangun museum seni rupa refresentatif yang sejak lama diapungkan para seniman Sumbar sebagai simbol budaya dan icon pembangunan di daerah ini, mendapat respon positif kalangan DPRD dan pemprov Sumbar.

Anggota komisi E. DPRD Sumbar, Drs. Sayuti Rajo Penghulu, menanggapi usulan seniman yang diperkuat argumentasi pemerhati seni Dr. Ir. H. Agus Taher, MS dalam makalah menyoal museum seni rupa di Sumbar dalam diskusi itu, berpendapat jika untuk pembangunan museum seni rupa yang memiliki fungsi dan peran strategis dalam pembangunan di Sumbar akan menghabiskan dana sebesar Rp 8 milyar, rasanya tidak terlalu besar jika semua memberikan dukungan untuk itu.

Ibarat memancing perlu umpannya dari kalangan seniman yang jumlah ratusan di tanah air memberikan sinyal sebagai modal awal pembangunan museum menyatakan kesediaan karya-karya terbaik mereka baik di Sumbar maupun luar untuk dijual kepada kolektor, orang-orang berduit, BUMN, pengusaha dan lainnya yang jumlahnya cukup banyak di tanah air. Malah seniman melalui berbagai kesempatan sejak lama telah menyatakan siap membantu demi kepentingan museum seni rupa, ujar pelukis Hamzah dari kelompok Sakato Yogyakarta yang dibenarkan seniman lain dalam diskusi tersebut.

Para seniman berharap, pembangunan seni rupa ke depan termasuk agenda museum seni rupa masuk dalam agenda pembangunan daerah yang bersumber dari harapan dan keinginan masyarakat yang ada di dalamnya untuk diformulasikan.

DPRD dan pemerintah propinsi memfasilitasi proses formulasi harapan dan keinginan masyarakat melalui berbagai mekanisme dan saluran yang tentu saja dari hasil musyawarah pembangunan dapat dirumuskan tujuan umum dalam skala jangka pendek, menengah dan panjang dan menjadi saripati pola dasar pembangunan daerah menjadi titik berat skala prioritas pembangunan dengan tahapan-tahapannya diikuti penggambaran alokasi dana sebagai budget sesuai kemampuan daerah. Inilah yang kita tunggu bersama, ujar peserta diskusi. ***

Catatan Redaksi
Yasrul Sami Batubara, Dosen senirupa UNP, Seniman tinggal di Padang

Sumber : Harian HALUAN Padang, Selasa 7 Juni 2005

 
Berita Aktual Lainnya

Video Pilihan


Profil SMKN 4 Padang 2014

Cara Pengisian Data Siswa Baru SMKN 4 Padang

SMK PK Skema Pemadanan “ Kolaborasi Pendidikan Vokasi ...

Kucing Ayu Asri

Model Pembelajaran Problem Based Learning

RAJO - film animasi karya siswa SMKN 4 Padang

Profil Jurusan Desain Komunikasi Visual SMK N 4 Padang

Profil Jurusan Seni Patung SMKN 4 Padang
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test