Sumbar Harus Menentukan Identitas Senirupanya

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Nazar Ismail, S.Sn
Selasa, 10 Mei 2005 16:36:28 Klik: 1593
Membaca sejumlah tulisan pada koran Haluan beberapa minggu terakhir yang memuat wacana dan polemik perlunya dibangun museum senirupa refresentatif di Sumbar, mulai tulisan Muharyadi dilanjutkan Yasrul Sami Batubara, Oktrian Ramli, Adirozal sampai ke Muzni Ramanto dengan berbagai argumentasi mendasar, baik sebagai pelukis, jurnalis, budayawan dan pengamat seni. Tanpa pikir panjang, wacana dan polemik itu bagi saya bagai angin segar. Ibarat kehausan, sekarang tersiar khabar ada air, meski airnya belum datang.

Betapa tidak ! Karena jika wacana dan polemik perlunya dibangun museum senirupa di Sumbar dan terwujud sebagaimana harapan orang banyak. Maka pada jelas akan berpengaruh pada diri saya selaku seniman termasuk yang lainnya. Saya berobsesi, suatu saat karya saya dipajang di museum ini.

Tapi sesungguhnya memajang karya di museum tentu tidak semudah itu. Bagaimanapun tulisan Muharyadi (Haluan, Selasa, 1 Februari 2005) dari kilas balik pameran Festival Minangkabau 2004 yang menjadi pemicu ajang polemik dikalangan teman-teman, ternyata menjadi polemik juga dalam diri saya. Karena saya juga pekerja seni yang sudah puluhan tahun bersenirupa.

Hemat saya, para penulis terdahulu secara umum lebih terkonsentrasi pada keberadaan tokoh-tokoh pelukis asal Sumbar, baik secara nasional bahkan internasional seperti Wakidi, Nashar, Zaini, Oesman Effendi, Baharuddin MS, Ipe Mak"ruf, Hasan Basri DT. Tumbijo, Arby Samah hingga angkatan muda sekarang tanpa menyinggung jatidiri dan identitas senirupa Sumbar yang mereka angkat.

Rasanya tak ada yang tak kenal dengan ketokohan mereka, apalagi bagi yang mengikuti perkembangan senirupa secara kontinyu. Namun itu belum cukup dijadikan kerangka berpikir perlunya museum, sebelum melihat apa dan bagaimana senirupa Sumbar sesungguhnya. Adakah ia punya identitas ? Bagaimana peran Taman Budaya, Dewan Kesenian atau lembaga pendidikan kesenian terhadap dunia kesenian itu sendiri ?

Masih Banyak Yang Perlu Disiapkan

Bila museum menjadi kenyataan dan mendapat respon dari pengambil keputusan daerah ini didasari perhitungan yang cermat disana-sini. Mulai dari lokasi dibangun, alokasi dana yang jelas dari APBD propinsi, bersama atau daerah museum dibangun, pengelolanya pun jelas, fungsi dan tujuannya ada.

Langkah berikutnya tentulah harus disertai pendataan secara teliti dari kemungkinan karya-karya yang menjadi bagian museum. Data lengkap perupa, berapa banyak karya yang pernah dihasilkan termasuk yang almarhum. Berapa jumlah karya-karya perupa Sumbar yang dikoleksi kolektor dalam dan luar negeri ?. Dimana ia sekarang ? Dan lainnya.

Ini sebetulnya masalah ringan, tapi penting. Kongritnya database secara rinci dan proporsional tentang pelukis hingga memungkinkan menjadi back-up keberadaan museum.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah Sumbar sudah menjadi pelayan yang baik terhadap informasi keberadaan perupa dan karya-karyanya? Jangan kita hanya mengenal orang Sumbar terkenal dengan istilah "Muluik manih kucindan murah, baso elok budi baik"? saja, tanpa ada sosialisasi di lapangan, tak terkecuali dalam kesenian. Apakah ini sudah ada ? Kalau ada siapa orang atau lembaganya ? Lalu bagaimana peran instansi bidang seni dan budaya ? Selama ini kita mengenal masalah kebudayaan ditangani Departemen Pendidikan. Sekarang siapa ?

Harus Ada "Aleh Bakua"?

Wakidi dan nama-nama tokoh senirupawan bila kita lepaskan diri dari keberadaannya di Sumbar, kecuali pada karya-karyanya seperti lukisan "Ngarai Sianok"?, "Lembah Harau"?, "Danau Maninjau"? dan lainnya, selama ini telah diakui eksistensi dan kreativitasnya, baik di daerah maupun luar Sumbar.

Namun bila obyek maupun tema yang sama dilukis bangsa Belanda, Inggeris dengan gaya dan style mereka. Apakah kita bisa membedakan bahwa karya tersebut bukan dibuat orang Sumbar !. Sejauh ini apakah kalangan pelukis (maaf kalau ini perkiraan) pernah memanifestasikan Sumbar dengan kondisi sosial disana-sini dan memasukkannya sebagai bahasa utama kreaivitasnya.

Padahal kita punya bahasa tersurat dan tersirat. Kita punya lambang-lambang warna menurut daerah yang memakai seperti marawa. Kita juga punya banyak legenda yang membedakannya dari daerah lain seperti Malin Kundang, Siti Baheram, Sabai Nan Aluih, Siti Nurbaya. Kita punya Randai, Selawat Dulang, Silat bahkan ada Silat Pauh dan Silat Kumango.

Begitu juga tari dan musik tradisi yang tersebar dan ada dimana-mana. Apakah semua tema maupun obyek dari dasar pemikiran ini cukup akrab ditangan pelukis sebagai icon daerah ditunjang kemampuan teknis yang dimiliki pelukis. Lihat di Jawa dan Bali terdapat icon kedaerahan sebagai identitas yang membedakannya dengan daerah lain hingga ia menjadi perhatian penikmat seni di tanah air bahkan hingga ke luar negeri.

Kalau mau jujur Sumbar sebenarnya tak pernah kering dari ilham dan ide yang dapat ditangkap pelukis sebagai tema maupun obyek karya berdasarkan kondisi dan realitas di tengah-tengah masyarakatnya. Kekhawatiran saya ini bukan menjadi sesuatu yang berlebihan terhadap nilai-nilai chauvinisme (sifat kedaerahan) hingga mempersempit rasa nasionalisme. Tapi disebabkan ingin melihat benang merah perkembangan senirupa sebagai kajian museum.

Kini ada kecendrungan dikalangan komunitas anak muda yang mulai tergelincir dari identitas hingga lebih menonjolkan moderenisasi tanpa jelas akarnya. Walau masalah ini sepenuhnya terpulang kepada pelukis yang bersangkutan. Tapi adakah dasar pemikiran yang kuat di dalamnya tanpa mengenyampingkan nilai-nilai kedaerahan yang ada ? Jangan-jangan semua itu hanya pembungkus untuk bersembunyi dibalik kondisi yang ada ?

Kita perlu melihat sejarah panjang senirupa Sumbar kebelakang, agar tidak terjebak pada persoalan moderenisasi semata, tanpa dasar pemikiran yang kuat. Inilah benang merah perkembangan senirupa sesungguhnya.

Mana Identitas Daerah ?

Saya bukan cemburu melihat Jawa atau Bali. Terlepas dari persoalan religius dengan kesenian yang sangat kental di daerah ini yang menentukan identitas daerahnya dimata nasional bahkan internasional, sekalipun karya-karya yang dihasilkan berbeda daerah. Ada dari Ubud, Sanur, Besakih, Tanah Lot dan lainnya, namun karya yang lahir hasil pergulatan kreativitas senimannya tetap mengangkat Bali tanpa kehilangan nilai estetis dan artistik disana sini.

Walau sebuah kahrusan, Sumbar dapat memikirkan langkah-langkah kongkrit menentukan identitasnya dulu. Di Sumbar semua kecendrungan gaya/style senirupa ada, mulai dari naturalis, realisme sampai yang belum bernama. Yang belum ada nilai-nilai kedaerahan. Kita senang berkiblat pada globalisasi, hingga persoalan hakiki menjadi tercerabut dari akarnya ?

Bila semua aspek yang dibutuhkan untuk kerangka dan frame perlunya dibangun museum senirupa tertata dengan baik dan sempurna, maka kehadiran museum yang diidamkan-idamkan selama ini, makin berrnakna. Itu Saja. ***

Catatan Redaksi :

Nazar Ismail, Guru di SMSR (SMK N 4) Padang, Pelukis/Pematung dan Pimpinan Rumah Seni "Rumandung"? Sumbar tinggal di Padang.

 
Berita Aktual Lainnya

Video Pilihan


Cara Siswa Baru Daftar Ulang Memasukan Biodata Di Sisfo ...

Tutorial Sketchup membuat Desain Bangku/Kursi Untuk ...

ILM tentang bahaya gadget by Nurul Maisarah

Peta Jalan Pengembangan SMKN 4 Padang

Herisman Tojes Pelukis Nasional Surealisme dari SMKN 4 ...

Masterclass Cinematography (Benny Kadarhariarto) di ...

Profil SMKN 4 Padang 2014

KUNJUNGAN ANGGOTA DPRD PROVINSI SUMBAR DALAM RANGKA ...
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test