Karya-karya Masterpiece Asal Sumbar Perlu Diselamatkan

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Oktrian Ramli
Selasa, 10 Mei 2005 16:31:33 Klik: 2906
Polemik perlunya dibangun museum seni rupa Sumatera Barat seperti dikemukakan Muharyadi dan Yasrul Sami Batubara, melalui tulisannya masing-masing di harian ini, selasa, tanggal 1 dan 15 februari 2005 lalu, memang merupakan sesuatu yang wajar dan perlu ditanggapi positif.

Tinggal sekarang bagaimana polemik tersebut dapat dijadikan salah satu acuan dan kerangka berpikir bagi Sumbar guna mewujudkan museum yang sesungguhnya, bukan sebatas wacana yang menghabiskan energi seperti yang kerapkali dibicarakan sejak hampir 30 tahun silam.

Secara historis seni rupa Sumbar sebenarnya telah hadir jauh sebelum era kemerdekaan RI daerah ini yang sudah lama dikenal geliatnya sebagai salah satu basis seni rupa di tanah air. Dari perkembangan yang cukup pesat itu dengan banyak karya seni rupa hasil pergulatan kreativitas lahir dari perupa yang ada di Sumbar maupun di luar Sumbar dalam beberapa dekade belakangan, sebenarnya mempunyai sejarah panjang yang mengakarinya.

Ibenzani Usman dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar seni rupa IKIP Padang (kini UNP) tahun 1994 silam menyebutkan, bahwa di Sumbar dalam lebih dua abad terakhir telah banyak melahirkan para pengrajin dan kriyawan yang mengandalkan oral tradition warisan pendahulu.

Mereka telah memproduksi benda-benda kegunaan sehari-hari, seperti anyaman pandan, anyaman rotan, tenunan songket, ukiran kayu, tembikar, kriya logam dan lainnya. Kemudian bentuk, fungsi, sifat bahan, metoda anggitan serta penerapan artistik berhasil dipadu hingga menjadi kesatuan yang harmonis di karya mereka. Karya-karya tersebut berhasil merebut perhatian masyarakat diantaranya pemuka-pemuka Belanda dan para ilmuannya yang bertugas di Sumatera Barat saat itu menjadikannya sebagai benda koleksian.

Walau benda-benda tersebut diakui masih sebatas benda kriya (seni kerajinan), tapi ia adalah bagian dari seni rupa juga atau applied art. Bahkan hingga kini terus berkembang seperti dapat dilihat pada sentra-sentra kerajinan yang menyebar di Sumatera Barat dengan jumlah yang cukup spektakuler seperti yang diekspose Dinas Perindustrian Sumbar tahun 1980 silam. Sekedar contoh kini seperti terdapat di Sungai Puar, Pandai Sikek, Ampek Angkek Canduang, Koto Gadang, Naras.

Perkembangan Seni Rupa Sumatera Barat yang dulu bernama Sumatera Tengah menurut Van Hasselt (1881) dalam ekspedisinya selama beberapa tahun di Sumatera Bagian Tengah telah berhasil didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul Ethnographische Atlas Van Midden Sumatera (1881). Mengingat saat itu belum ada kamera foto, maka data visual yang ditemui tentang seni rupa Sumatera Tengah digambar dengan pena tinta cina.

Setengah abad kemudian diikuti oleh Jasper (Belanda) dan M. Pirngadi (Indonesia) yang melakukan perjalanan budaya diseluruh nusantara. Dari hasil perjalanannya selama 3 tahun dibuat buku lima edisi yang terangkum dalam satu paket berjudul Irlandsche Kunstneverheid In Nederland Indie yakni tahun 1919, 1921, 1924, 1927 dan 1930 yang isinya dilengkapi dengan foto-foto yang sudah memadai, pun di dalamnya juga memuat Seni Rupa di Sumatera Tengah.

Bersamaan dengan itu kehadiran Seni Lukis baru diketahui dengan persis gejalanya semenjak berdirinya Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) tahun 1837 di Bukittinggi. Di sekolah ini puluhan tahun kemudian Wakidi salah seorang pelukis Indonesia zaman Mooi Indie, kelahiran Plaju Sumatera Selatan (1890) mendalami pelajaran menggambar dan melukis (1903).

Mengingat kemampuan luar biasa yang dimiliki Wakidi di usia mudanya. setamat disana, ia memperoleh tawaran menjadi guru menggambar guna membina dan mengasuh anak-anak pribumi yang menempuh pendidikan di Kweekschool. Diantara murid Wakidi tercatat tokoh proklamator Bung Hatta dan pahlawan revolusi Abdul Haris Nasution.

Tidak hanya di Kweekschool, beberapa tahun kemudian Wakidi ditawari menjadi guru di INS Kayutanam, yang didirikan M. Syafei tahun 1926. Di INS Wakidi ternyata juga disukai dan disenangani puluhan bahkan ratusan murid dan pengikut-pengikutnya.

Diantara murid-muridnya terdapat tokoh berkesinambungan yang berkiprah dalam peta seni lukis nasional seperti Baharuddin MS, Syamsul Bahar, Mara Karma, Hasan Basri DT. Tumbijo, Nasjah Jamin, Montingo Busye, Zaini, Nashar, Ipe Makruf, Alimin Tamin, Nuzurlis Koto, Arby Samah, Muslim Saleh, Mukhtar Apin, AA Navis, Mukhtar Jaos, Osmania dan banyak lagi hingga ke tokoh-tokoh muda saat ini.

Setelah INS Kayutanam di era tahun 1960-an muncul jurusan seni rupa IKIP Padang (1963) dan SSRI/SMSR Negeri Padang (1965) yang banyak melahirkan para perupa. Sejak era tahun 1970-an hingga kini dunia seni rupa Sumbar terus mengibarkan benderanya. Kita juga tidak menampik sejumlah nama-nama besar perupa asal Sumbar dibesarkan di luar Sumbar, terutama pulau Jawa dan Bali. Karya-karya perupa Sumatera Barat terutama seni lukis dan patung kerap dijadikan barometer peta seni rupa nasional.

Kekhawatiran kita. Kini banyak karya-karya masterpiece hasil pergulatan kreativitas seniman Sumatera Barat yang lari ketangan kolektor luar Sumbar. Lihat karya lukis Stevan Buana, Rudi Mantovani, Syaiful Adnan, Yanuar Ernawati, Yunizar, Hamzah, karya patung Syahrizal bahkan Arby Samah dan lain-lain banyak ditemui di Museum H. Widayat, museum Dr. Oei Ong Djien dan Galery Langgeng di Magelang dan beberapa museum lain Jakarta, Bandung dan Bali termasuk disejumlah museum Asia dan Eropa.

Karenanya masuk akal jika saatnya kini Sumbar memiliki museum seni rupa refresentatif, agar Sumbar dengan banyak perupa dengan karya-karya masterpiece yang pernah lahir dari tangan senimannya mampu mengoleksi karya-karya mereka sebagai pusat sejarah seni rupa di tanah air. Agaknya kemauan ingin memiliki museum seni rupa refresentatif di Sumbar, bukanlah sesuatu yang berlebihan apalagi dianggap mubazir.

Tinggal sekarang bagaimana Pemerintah daerah dengan banyak Pemko dan Pemkabnya, kalangan legislatif, seniman, masyarakat penyangga seperti, pemerhati, kolektor, kurator, media massa, lembaga pendidikan seni dan lainnya dapat mewujudkan dalam tindakan kongkrit dan aksennya di lapangan. Inilah PR bersama kita yang perlu disikapi secara arif dan bijaksana agar sen rupa Sumbar mampu menjadi tuan rumah dinegeri sendiri melalui hadirnya museum seni rupa sebagai pusat sejarah seni dan budaya, kajian bernilai edukatif, pusat pariwisata dengan tidak mengabaikan fungsi dan perannya ditengah-tengah masyarakat.

Pentingnya Museum Seni Rupa

Selain museum seni rupa H. Widayat dan Dr. Oei Ong Djien di Magelang Jawa Tengah dan museum Affandi di Yogyakarta, Prof. Dr. Soedarso, SP, pengamat dan penulis sejarah seni rupa tanah air menjelaskan hasil suatu kesimpulan dan survey dari semimar pengembangan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah beberapa waktu lalu yang menyebutkan, bahwa dari 27 musuem yang ada di Yogaykarta dan Jawa tengah didalamnya termasuk museum jamu di Semarang, museum gula di Klaten, museum kereta api di Ambarawa dan lain-lain, kecuali Museum Widayat, Affandi sementara museum seni rupa Dr. Oei Ong Djien baru berusia muda, tak satu pun museum seni rupa refresentatif ada di tanah air.

Malah kalau kita boleh mengambil kaca banding ke Eropa seperti Belanda yang jumlah penduduknya lebih sedikit dibanding Jawa Tengah, ternyata memiliki 663 museum diantaranya museum besar dan terkenal seperti Rijksmuseum Amsterdam, Stedelijk Museum Amnsterdam, Rijkmuseum Vincent Van Gogh, Stedelijk Van Abbenmuseum, Rijkmuseum Kroller-Muller yang terkenal di benua Eropa.

Kita tentu tidak ingin membandingkan Eropa apalagi Amerika Serikat yang juga sangat terkenal akan museum seni rupanya dengan Indonesia, tapi lebih merupakan sebagai ilustrasi akan pentingnya fungsi dan peran museum seni rupa di Sumbar ditengah-tengah masyarakatnya. Karena di museum seni rupa menyimpan banyak karya-karya materpiece dari berbagai angkatan, tahun dan sejarah yang tidak dapat diabaikan begitu saja sebagai sebuah pusat sejarah, seni dan budaya, ajang kajian bernilai edukatif, pusat pariwisata dan budaya melalui berbagai event pameran, diskusi dan jati diri berkesenian yang kapan saja siap digelar dimuseum. ***

Catatan Redaksi :

Oktrian Ramli, Pekerja Seni dan alumni jurusan seni rupa murni UNY Yogyakarta, kini menjadi staf pengajar di INS Kayutanam tinggal di Padang.

 
Berita Wawasan Seni Lainnya

Video Pilihan


Pematung Besar Diakui Dunia YUSMAN SSn- Alumni SMSR ...

Masterclass Cinematography (Benny Kadarhariarto) di ...

Angkatan 2019 Kriya Kreatif Batik dan Tekstil SMKN 4 ...

Desain Interior dan Teknik Furnitur SMK N 4 Padang

Masjid Tuo Kayu Jao - masjid tertua di Indonesia

SMK PK Skema Pemadanan “ Kolaborasi Pendidikan Vokasi ...

Terakhir - VideoClip

0:25 / 3:26 LIYONKEY KHOIRI - SUPERKOMPUTER ( ...
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test