Peristiwa Budaya Dalam Rekaman Seni Lukis Sumbar

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Muharyadi
Jumat, 13 Mei 2005 11:36:02 Klik: 7461
"Anak daro jo marapulai" yang sedang melangkah gontai diiringi para sumandan/urang sumando, kaum kerabat, sanak saudara dan iringan lainnya tampak meninggalkan rumah gadang beraksitektur Minangkabau tempat bernaungnya keluarga besar pihak anak daro. Disudut lain terlihat rangkiang rumah gadang sebagai simbol lambang kemakmuran sesuai fungsinya yakni, sebagai tempat menyimpan padi.

Pada pemandangan lain, dihalaman rumah gadang, kegiatan kesenian anak nagari berupa "ulu ambek" terlihat masih menyisakan permainan yang seakan menjadi saksi sejarah peristiwa budaya disalah satu daerah Minangkabau yang direkam pelukis Wakidi melalui salah satu lukisannya berjudul "Perhelatan/Pesta Perkawinan di Minangkabau", cat minyak diatas kanvas, 95 X 155 cm (1963

Wakidi (1889-1979), tokoh seni lukis moderen Indonesia dari Sumatera Barat zaman "Mooi Indie" (Indonesia Jelita) bersama Abdullah SR (Jawa Barat) dan M. Pirngadi (Jakarta) dikaryanya ini memang tidak menjelaskan lokasi daerah yang direkamnya sebagai obyek lukisan. Tapi dari tema yang diangkat Wakidi itu setidaknya dapat dijadikan dokumen sejarah penting peristiwa budaya yang kini semakin mahal harganya ditengah-tengah derasnya arus budaya global.

Merekam peristiwa budaya berupa "Perhelatan/Pesta Perkawinan di Minangkabau" bagi pelukis tentulah diharapkan mampu menghayati arti dan makna peristiwa yang sesungguhnya. Apakah pelukis sebagai pelaku utama maupun tidak terlibat langsung pada peristiwa yang dianggap sakral dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh makna dan nilai-nilai adat istiadat di Minangkabau sebagai simbol sepasang pengantin dalam menapak bahtera rumah tangga kehidupan baru.

Dalam satu teori seni, pemaknaan konsep maupun tema sebagai wacana kerja lukis-melukis sebenarnya dapat dihubungkan dengan ilmu "semiotika" yang disebut "tanda" atau sesuatu yang lain. Tanda kerapkali dikaitkan dengan faktor historis, geografis, metodologis atau kepribadian hingga memungkinkan pencerapan secara hakiki apa yang tersirat dan tersurat sebagai bahasa utama seni lukis.

Padahal dalam ilmu semiotika seperti sering diteliti para ilmuwan hingga kini bisa saja membuahkan hasil yang berbeda-beda dan tidak memuaskan terhadap tanda yang direkam pelukis. Karena itu bisa diduga bila pendekatan semiotika selama ini bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang beragam.

Ilmu semiotika yang dimanfaatkan peneliti untuk menyidik seni lukis yang menjadi profesi sebagian orang dibanyak negara, lebih cendrung memakai semiotika versi Charles Sander Peirce (1839-1914) yang dikembangkannya di Amerika dibanding semiotika yang dimanfaatkan ilmuwan lain dibeberapa negara eropa lain. Dalam versi Charles Sander Peire terlihat adanya konsep trikotomi berupa ikon-indeks-simbol yang digunakan untuk menganalisis seni lukis.

Bila kita menganalisa lukisan Wakidi berjudul "Perhelatan/Pesta Perkawinan di Minangkabau" diatas yang obyeknya berbicara tentang ekspresi wajah masing-masing sosok manusia dalam suasana pesta perkawinan sesuai rekaman peristiwa, maka karya ini sebenarnya bisa ditelusuri dari tanda atau simbol berupa ikon, indeks dan simbol versi Charles Sander Peirce.

Lihat obyek anak daro jo marapulai, urang sumando, kaum kerabat, sanak famili dan lainnya mewakili ikon. Sementara suasana yang menggambarkan kecerahan langit dan awan memutih, bayang-bayang cuaca di kolam disekitar lokasi pesta/perhelatan sebagai penanda waktu dari obyek yang dilukis Wakidi dengan warna-warna cerah disebut mewakili indeks. Obyek rumah gadang dengan rangkiang, pakaian kedua penganten yang terasa kontras dan kesenian ulu ambek disebut simbol.

***

Dalam sejarah seni lukis di Sumbar sejak era Wakidi tahun 1915-an keatas dan berdirinya INS Kayutanam (1926), diikuti jurusan seni rupa IKIP Padang (kini UNP) tahun 1963 serta SSRI/SMSR (sekarang SMK negeri 4) dan berbagai sanggar seni lukis daerah termasuk pengaruh perguruan tinggi di luar Sumbar, seperti di pulau Jawa. Terdapat konsekwensi berupa banyaknya karya yang memakai "tanda"? pada obyek-obyek dengan tema sosial, seperti peristiwa budaya, kesenjangan sosial dan lainnya. Apakah karya tersebut etstetik atau tidak sebenarnya adalah bagian dari sejarah panjang seni lukis di daerah ini.

Dalam perjalanan seni lukis di Sumbar selama ini, para pelukis mungkin tidak terlalu menghiraukan persoalan di luar seni lukis, seperti kajian semiotik yang pernah dilakukan peneliti terhadap karya lukis selama ini sesuai ruang dan waktunya.

Mengingat karya lukis sebagai hasil pergulatan dan penjelajahan kreativitas seniman diangkatan dan zamanya, tentulah bukan semata tertuju pada persoalan estetika yang lazim dikenal selama ini. Karena karya lukis dapat disidik dari persoalan tema atau konsep yang mendasarinya, bisa juga dari tanda maupun simbol di zaman dan angkatannya hasil refleksi berbagai peristiwa.

Pelukis tempo dulu era tahun 1960-an di Sumbar seperti Hasan Basri Dt. Tumbijo, Sabirin, Mudahar, Oesman Effendi, Syamsul Bahar dan lainnya yang telah almarhum pada berbagai obyek dan tema yang digarapnya secara umum banyak mengangkat persoalan keseharian berupa tema sosial sebagai tanda di zamannya. Tapi perlu dibatasi, persoalan keseharian dan tema sosial secara umum yang direkam seniman dapat dilihat sesuai zaman dan angkatannya, apa dan bagaimana sikap pelukis saat itu, dapat dikaji, dianlisis dan diurai menurut ilmu semiotika.

***

Tapi apakah persoalan peristiwa budaya dan realitas sosial lainnya kini selalu luput dari pengamatan untuk dijadikan tema maupun obyek lukisan. Memang tidak demikian halnya. Sesuai zamanya dalam peristiwa dan kondisi-kondisi realitas sosial masyarakat, merupakan tema maupun obyek yang tak pernah kering untuk digali dan disiasati sebagai bahasa utama kerja lukis-melukis.

Lihat karya pelukis Armansyah Nizar (53 th) berjudul "Maanta Marapulai", cat minyak, 90 X 120 cm, (1999), karya Idran Wakidi (51 th) "Kenangan dimasa kecil", cat minyak, 65 X 95 cm (2000), karya Yose Rizal (56 th) "Badendang Rabab", cat minyak 80 X 100 cm (2002) dan "Kabau Padati", cat minyak, 100 X 100 cm (2000), Nazar Ismail (52 th) "Turun Mandi", 80 X 120 cm (2004), Muzni Ramanto (60 th), "Antaran", 75 X 95 cm (2004) dan Amrianis "Ceremony Of Bedug", 100 X 150 cm (2002) serta beberapa nama pelukis lain dari Sumbar adalah beberapa contoh yang masih setia merekam peristiwa budaya yang terjadi ditengah-tengah masyarakat sesuai zamannya.

Dari beragam pencitraan estetis dan artistik terhadap obyek maupun tema yang direkam para pelukis saat ini terhadap peristiwa budaya, realitas sosial masyarakat, tentulah memiliki nilai sejarah dalam khasanah seni lukis sebagai tanda-tanda sejarah yang tak pernah luput dari pengamatan seniman dengan keanekaragaman warna-warni dan berbagai makna simbolik.

Namun demikian, para seniman yang terilhami persoalan peristiwa budaya dan kondisi realitas sosial masyarakat di daerah ini, tentu tidak berkewajiban untuk melukiskannya secara faktual. Karena karya lukis kehadirannya lebih didorong oleh panggilan ekspresi artistik sebagai bahasa utama dipermukaan kanvas. ***

Catatan Redaksi :

Lukisan Wakidi (1889-1979) "Perhelatan/Pesta Perkawinan di Minangkabau", cat minyak diatas kanvas, 95 X 155 cm (1963) "? Foto : dok/Muharyadi "

Muharyadi, Guru Pembina di SMSR (SMK Negeri 4) Padang, Pelukis dan Jurnalis, kini memperdalam ilmu di program Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Sumber : Padang Ekspres, Minggu, 17 April 2005

 
Berita Pameran Lainnya

Video Pilihan


MPLS SMKN 4 PADANG

Profil Jurusan Seni Patung SMKN 4 Padang

Kendaraan Tradisional Bendi di Sumbar (Film Dokumenter ...

Multimedia SMK N 4 PADANG lounching film karya siswa ...

SUKSES GELAR PAMERAN SMKN 4 PADANG DAPAT APRESIASI LUAR ...

JAMAIDI PELUKIS SMKN 4 PADANG YANG MENDUNIA

KEAHLIAN MASA DEPANKU - MULTIMEDIA SMKN 4 PADANG

Peta Jalan Pengembangan SMKN 4 Padang
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 1

No Members are currently logged in.
Advertorial