Dari Pelukis Otodidak Sampai ke Wawako

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Yasrul Sami Batubara
Selasa, 10 Mei 2005 16:37:27 Klik: 2205
Pameran seni rupa Pekan Budaya Sumatera Barat/Festival Minangkabau 2004 merupakan pameran paling akbar dalam 10 tahun terakhir di daerah ini. Dari 160 perupa asal Sumbar yang diundang panitia diberbagai daerah nusantara, 148 diantaranya menyatakan kesediaan untuk ikut serta dan 103 karya dinyatakan lolos seleksi oleh kurator Ady Rosa dan Muharyadi.

Kegiatan yang digelar sejak 18 sd 24 Desember 2004 di ruang pameran Taman Budaya Padang itu memuat banyak karya-karya menarik yang dapat dijumpai disetiap sudut ruang pameran "? terutama seni lukis "? yang menjadi mayoritas pilihan dari karya seni rupa yang dipajang.

Ada karya pelukis istana zaman bung Karno, Itji tarmizi "Potret Diri"?, cat minyak, 50 x 70, (2000), lukisan Wakidi "Ke Pasar"?, cat air, 17 X 24 cm (1961), sketsa Ipe Mak"ruf "Potret"?, tinta, 25 X 25 cm (2000), karya Hasan Basri DT Tumbijo, "Kincir"?, 100 X 150 cm (1984) Syamsul Bahar "Lembah Harau"?, cat minyak, 90 X 145 cm (1953), Arby Samah "Tigo Tungku Sajarangan"? (patung kayu), 45 X 40 X 10 cm (1999), Amir Syarif "Al-Baaqi"? mixed media 77 X 97 cm (2004) dan lainnya hingga ke tokoh-tokoh muda.

Pameran ini dimungkinkan oleh sebuah keajaiban, mengingat banyak peserta asal Sumbar diantaranya yang sudah lama tidak menetap di kampung halaman, ternyata masih menyisakan waktu untuk berpameran.

Jika waktu persiapan pameran lebih panjang, banyak sebenanya karya-karya masterpiece yang dapat dipajang, seperti karya Mukhtar Apin, Baharuddin MS, Zaini, Nashar, Nasjah Jamin, Salim yang karyanya setelah dihubungi panitia harus dijemput dan diantar ke alamat keluarga masing-masing di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, mengingat semuanya telah almarhum dengan karya yang tak ternilai harganya, jelas panitia pameran Nazar Ismail.

Setidaknya karya yang ada sekarang, telah mengobati hati panitia pameran. Karena terdapat beberapa pelukis yang mewakili periodesisasi sejak era Wakidi (1890-1979) hingga ke tokoh-tokoh muda, ujar koordinator pameran Seni dan Budaya Drs. Achyar Sikumbang.

Perlu Mendapat Perhatian Khusus

Ruang pameran Taman Budaya berlantai II itu tampak penuh sesak karya yang dipajang. Banyak pendapat menyebutkan, seniman seni rupa asal Sumbar kini sedang demam berkarya. Kita tidak tahu persis apa gejalanya. Padahal boom seni lukis sudah lama berlalu. Kondisi ini perlu direspon positif, mengingat eksistensi Sumbar sebagai salah satu basis seni rupa di tanah air. Dibalik semua itu tentu yang penting lagi bagaimana Sumbar mampu menjadikan seni rupa menjadi bagian integral pembangunan dengan akar seni budaya yang kuat sebagai ciri khas jati diri serta gairah membangun.

Besarnya potensi seni rupa yang hidup dan cendrung berkembang yang terus digali perupa dalam ranah kreativitas yang bereksistensi, wajar mendapat perhatian khususnya melalui Festival Minangkabau yang bakal digelar setiap saat. Ajang Festival ini pun memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk dapat menikmati hasil karya seni rupa sambil mengkaji sejarah, perkembangan dan evaluasinya disamping ajang rekreasi dan wisata bagi masyarakat sebagai bagian kesejahteraan hidup, jelas Achyar Sikumbang menambahkan.

Dari Pelukis Otodidak Sampai ke Wawako

Sejumlah karya masterpice hasil pergulatan kreatiivitas Wakidi (1880) tokoh penting di zaman Mooi Indie (Indonesia Jelita), karya pelukis istana zaman Bung Karno, Itji Tarmizi, karya mahasiswa ASRI Yogyakarta pertama dari Sumbar Hasan Basri DT. Tumbijo (1922), karya Syamsul Bahar salah seorang tokoh dan guru senior menggambar di INS Kayutanam yang kesemuanya telah almarhum, disamping sketsais terkemuka Ipe Mak"ruf serta tokoh dan salah seorang pendiri SSRI/SMSR Negeri Padang, Amir Syarif merupakan saksi bisu dari bagian sejarah seni rupa Sumbar.

Ke Pasar (cat air) karya Wakidi berukuran kecil, Potret Diri (cat minyak) karya Itji Tarmizi, masih mempelihatkan eksistensinya melalui jejak kekuatan garis, warna dan sosok kedua pelukis dari tema-tema yang digarap semasa hidup didasari realitas kehidupan sosial ditengah-tengah masyarakat.

Sementara karya Heldi "Konstruktivis Minangkabau"?, akrilik, 80 X 80 cm (2004), karya Ardim "Puisi Untuk Ibu"?, cat minyak 100 X 100 cm (2004), karya Dwi Augustiono "Buah Khuldi"?, 145 X 145 cm (2004), karya Herisman Tojes "Putaran Keseimbangan"?, 135 X 135 cm (2004), karya Rudi "Adu Runcing"?, akrilik 100 X 100 cm (2004) adalah bagian simbol-simbol yang direfresentasikan pelukis dengan kepekaan estetis yang dimiliki.

Sejumlah peristiwa dan pemandangan alam pun tak pernah kering mengilhami pelukis di kanvasnya, lihat karya Idran Wakidi "Senja Menjelang Malam"?, cat minyak 60 X 80 cm (2004), karya Armansyah Nizar "Menyeberang Danau 40 X 60 cm (2002), Zainal ahmad "ainya Alam X 108 cm (2004), Evelyna Dianita "suak X 115 cm (2004) dan Firman Ismail "alik Jendela35 X 135 cm (2004).

Sementara karya-karya mutakhir ditampilkan pula kelompok pelukis anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas seni rupa, lihat Iswandi dari Belanak dengan karya " Big Nest35 X 135 cm (2004), Mardesten "ALIKU-KU<>37 X 105 cm (2004), Muhamad Ridwan "ssst0 X 150 cm (2004) dan M. Zikri "e in Your Eyes5 X 150 cm (2004) adalah bagian isyarat adanya tanda-tanda baru dalam wilayah kreativitas.

Menarik benang merah seni lukis sejak era Wakidi hingga ke tokoh-tokoh muda sekarang dalam soal konsep dan tematik bermuatan lokal genius sebagai ciri Sumatera Barat tentulah harus diteliti, dikaji dan dicermati dari berbagai sisi waktu dan ruang yang ada.

Sebuah apresiasi dari pameran ini dapat disidik, bahwa hakikat karya seni adalah ungkapan hati nurani tentang harmoni, keindahan, lingkungan sosial, pesona alam. Kemampuan berdialog tentang harmoni, keindahan, lingkungan sosial serta pesona alam modal untuk menyiasati warna local jenius.

Seniman "? seperti pelukis "? menjadi sebagaimana dirinya dalam pergulatannya menghadapi tugas sosial historis yang dicoba dipahami dan dilaksanakan menurut pelukisnya sendiri. Sebelum tugas-tugas tersebut terselesaikan, ia belum akan memiliki kepribadian pelukis yang dapat dibedakan dalam situasi kongkrit yang melatarbelakanginya.

Sumbar sejak lebih seabad silam hingga kini kaya dengan perupa serta karya-karyanya. Kongkritnya dari seratusan seniman yang berpameran di Festival Minangkabau ini, mulai dari anak muda dengan basis akademisnya, pelukis otodidak Zainal Ahmad yang kerap menimba pengalaman dari alam dan lingkungan tempat ia dibesarkan hingga pelukis Adi Rozal, dosen dan seniman yang kini menjadi Wakil Walikota Padangpanjang itu adalah gambaran umum seni rupa Sumbar yang tak pernah kering untuk mencari idiom-idiom baru. Mungkin saja soal konsep dan tematik sebagai patronase berseni rupa. ***

rul Sami Batubaraalumni ISI Yogyakarta, pelukis dan staf pengajar di jurusan seni rupa UNP Padang.

 
Berita Lainnya

    Video Pilihan


    Sahabat dan Cinta - Film Pendek - Meraih Nominasi AFI ...

    Profil Kriya Kreatif Batik dan Tekstil SMKN 4 Padang ...

    Cara Siswa Baru Daftar Ulang Memasukan Biodata Di Sisfo ...

    Profil Jurusan Seni Lukis tahun 2021

    Kendaraan Tradisional Bendi di Sumbar (Film Dokumenter ...

    Film Surga Untuk Mama Karya Siswa Multimedia SMKN 4 ...

    Multimedia SMK N 4 PADANG lounching film karya siswa ...

    Pematung Besar Diakui Dunia YUSMAN SSn- Alumni SMSR ...
    Login
    Username:

    Password:

      Registrasi?
    Selamat Datang Tamu!
    Guest(s)online: 4

    No Members are currently logged in.
    Advertorial