SIGHI ART GALLERY, SESAAT LAGI

BAGIKAN:

facebook twitter pinterest line whatapps telegram

Oleh Erianto
Sabtu, 24 Februari 2007 10:29:15 Klik: 3680

Akhir-akhir ini boleh dikatakan bahwa Bukittinggi sedang mengalami banjir galeri. Sejak tahun 2003 hingga 2006 kemaren sudah terdapat 5 galeri lukisan di Bukittinggi, diantaranya yaitu: Army Gallery di Simpang Tanjung Alam, Dayang Gallery di Cingkariang, Galeri Yazid di Padang Luar, Plaza Lukisan di Padang Luar dan Rama Gallery di Pinang Balirik. Meskipun demikian dalam tahun 2007 ini jumlah tersebut masih akan bertambah, karena  akan muncul sebuah galeri lagi yang bernama Sighi art Gallery.

Galeri ini terletak tepat di jantung kota Bukittinggi (0 km), yaitu di jalan Jenderal Sudirman No. 24, lebih kurang 200 meter menjelang jam gadang. Meskipun memanfaatkan sebuah gedung tua yang bernilai historis, yang didirikan tahun 1900, Sighi art Gallery memiliki ruang pamer yang cukup representatif, yaitu seluas 330 m2 dan outdoor space lebih kurang 1 hektar. Galeri ini diprakarsai oleh tiga serangkai yang stu sama lain saling menunjang: Hendra Sardi dan Ikhsan sebagai pemrakarsa dan Atariq dimana Hendra Sardi sendiri adalah seorang pelukis yang tidak asing lagi di Bukittinggi karena aktivitasnya dalam melukis dan pameran selama ini.

Meskipun sudah merupakan galeri yang ke 6 di Bukittinggi, namun ada sisi yang menarik dicermati dari kehadirannya. Di samping ruang pajangnya yang cukup besar, tampilan dan sistem pengelolaannya juga berbeda. Boleh dikatakan bahwa Sighi art Galeri termasuk kategori galeri dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekedar istilah yang paralel dengan toko lukisan misalnya. Lukisan-lukisan yang akan digelar lebih bersifat apresiatif ketimbang market oriented. Hendra Sardi, penggagasnya, mengakui: “Sighi art Gallery memang lebih mengarah pada idealisme seni lukis dari pada sekedar menjual lukisan, seperti layaknya sebuah toko. Memang kita tidak bisa munafik, baik pelukis maupun galeri tentu butuh uang, tetapi kita tidak ingin melacur hanya demi uang. Lukisan yang digelar di sini memang untuk dijual, tapi walaupun begitu tetap yang kita utamakan adalah lukisan-lukisan yang berkarakter, yang memiliki idealisme. Atau lukisan yang murnilah.” Ini menunjukkan bahwa dari segi target, Sighi art Gallery sudah mengarah pada segmen tertentu, yaitu kalangan apresian (pemerhati dan pencinta seni). Dalam bahasa pemasaran, meminjam istilah Hermawan Kartajaya, differensiasi dan positioningnya sudah jelas.

Dalam program pengelolaannya, akan disusun berbagai kegiatan yang menunjang keberadaan dan kemajuan galeri. Di samping adanya pameran tetap, galeri juga akan mengadakan pameran secara berkala, baik dengan menggelar karya yang sudah ada maupun karya-karya baru, tergantung momen dan tema pameran. Sejalan dengan itu maka galeri akan berusaha melengkapi keberadaannya dengan seorang Kurator tetap, sebagai mediasi (pengantar) antara galeri, pelukis dan masyarakat, sehingga secara bertahap akan merangsang apresiasai dan minat terhadap karya seni. Bahkan lebih jauh jika memungkinkan Sighi art Gallery juga akan mengadakan kegiatan-kegiatan lain yang lebih luas, yang tentu saja tetap dalam rangka menunjang keberadaan dan keberlangsungan galeri dan aktivitas berkesenian secara umum, misalnya mengadakan workshop, diskusi seni, dan bimbingan melukis. Singkatnya Sighi art Gallery akan berusaha mengemas galeri ini secara variatif agar kehadirannya tetap aktual dan tidak menjemukan.

Itulah sebabnya persiapan galeri ini memakan waktu yang cukup lama. Banyak pihak terkait yang terlibat dan ikut membantu kehadirannya. Hendra Sardi mengaku bahwa dari awal ia memang cukup sibuk mengurus dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. “Kita tidak mungkin lagi berbuat setengah-setengah”, tegasnya. “Kita juga barus membangun jaringan dengan kawan-kawan di Jogja misalnya. Kita butuh bantuan mereka bagaimana sebaiknya mengelola sebuah galeri, sekaligus untuk menambah wawasan dan promosi kita keluar. Saya juga minta dukungan kawan-kawan pelukis, baik yang ada di Padang maupun yang di perantauan. Alhamdulillah ternyata mereka semua sangat mendukung dan itulah sebabnya mereka juga antusias ketika saya tawarkan agar lukisannya digelar di sini.

Pada grand openingnya bulan April mendatang galeri ini sekaligus akan mengadakan pameran perdananya. Pameran tersebut akan mengangkat tema pa.no.ra.ma, yaitu sebuah istilah yang bisa saja diartikan secara lebih luas dan berbeda oleh masing-maisng peserta. Tetapi secara umum jelas bahwa pameran ini tetap dalam kerangka melukis pemandangan (diharapakan objek alam Minang), yang dalam perujudannya tentu saja sesuai dengan teknik, gaya dan kecendrungan masing-masing perupa. Pameran ini akan mengundang para perupa (pelukis) yang berdomisili di Sumatera Barat dan di perantauan. Tidak tanggung-tanggung pameran ini nanti akan dikuratori langsung oleh Mikke Susanto, seorang Kurator Nasional dari Yogyakarta.

Sighi art Gallery berharap pembukaan dan pameran perdana ini sekaligus hendaknya menjadi sebuah momentum baru bagi dunia berkesenian. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Hendra Sardi bahwa prospek galeri ini ke depan tidak hanya untuk segelintir orang atau untuk Bukittingi saja, melainkan diharapkan menjadi cikal bakal medan berkesenian baru yang setara dengan kota-kota kesenian lainnya di Jawa dan Bali. Di samping keyakinan dan kesungguhan, harapan ini tentu cukup beralasan. Bukankah dalam akar sejarah seni lukis Indonesia, Bukittinggi termasuk salah satu kota perintis berdirinya pendidikan seni di Indonesia, Kweek School, yang akhirnya melahirkan pelukis maestro Wakidi (1890-1979)? Dan sekarang, gejolak berkesenian di Sumatera Barat tampaknya kian hari kian menggeliat, ini terlihat semakin banyaknya kemunculan galeri dan perupa yang aktif berkarya dan pameran. Di samping itu juga tidak kalah penting adalah keberadaan Bukittinggi sebagai kota wisata yang cukup ramai dikunjugi baik oleh turis domestic maupun manca negara, yang tentu merupakan sumber daya dan potensi yang sangat mendukung.

Semoga segala tekad dan harapan Sighi art Gallery (yang juga menjadi harapan kita semua) akan benar-benar terwujud. Kita tunggu sesaat lagi!

Biaro, 3 Februari 2007

Erianto Anas
(Guru SMK N 1 Ampek Angkek)

 
Berita Berita Pendek Lainnya

Video Pilihan


Film Animasi No Mercy Karya siswa SMKN 4 Padang

SMKN 4 PADANG TERPILIH SEBAGAI SEKOLAH PUSAT KEUNGGULAN

Kemeriahan HUT ke 78 RI di SMKN 4 Padang

Wooden Boy - Film Animasi karya siswa SMKN 4 Padang

Saka Pandai Sikek ...

Model Pembelajaran Problem Based Learning

DESAIN INTERIOR SMKN 4 PADANG SIAP PASARKAN PRODUK ...

Company Profile Program Pendidikan Inklusi SMKN Padang
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Advance
Selamat Datang :
Guest(s): 0
Member(s): 0
Total Online: 0
NISN
test