Meminang Minangkabau yang Mulai Membatu

Oleh Suwarno Wisetrotomo
Minggu, 15 Mei 2005 16:26:04 Klik: 9522
Klik untuk melihat foto lainnya...
Melihat dan memahami Minangkabau dari Indonesia. Topik semacam itu dapat terjadi dan berlaku di mana saja, di setiap daerah di Indonesia. Muara dari persoalan itu adalah sebuah persoalan identitas: mempertanyakan sekaligus menafikan. Mempertanyakan, karena tiba-tiba kita, juga siapapun, seperti kehilangan pijakan, kehilangan asal-usul atau identitas aslinya, sementara itu identitas yang baru masih belum (sulit) didapatkan. Menafikan, karena seiring dengan irama zaman yang terus bergulir, maka perubahan menjadi keniscayaan. Karena itu identitas baru menjadi godaan, dan terus menghadang untuk segera diraih. Dalam kondisi sepeti itu bukan tak mungkin yang terjadi adalah kebimbangan, limbung bahkan mungkin kehilangan orientasi.

***

Darvies Rasjidin, pelukis kelahiran Solok, Sumatera Barat, 15 Oktober 1948, yang sejak akhir tahun 1998 lalu memutuskan untuk tinggal dan menetap di Yogyakarta, tampaknya, dalam proses kreatifnya berada dalam ketegangan eksistensial semacam itu mempertanyakan Minangkabau, yang secara historis menjadi basis di wilayah kurturalnya, namun sekaligus menafikannya. Memepertanyakan, karena ternyata banyak sisi yang tak ia pahami, dan hilang dari kebiasaan dan keseharian di lingkungannya. Juga karena semakin rancunya eksistensi budaya Minang; tak ada garis demarkasi yang memisahkan mana mitos, mana legenda, dan mana sejarah. Akibatnya terjadi silang sengkarut. Maka Darvies menafikannya, karena memang is tak dapat lagi membelanya. Apa boleh buat.

Lantas apakah yang menjadi pilihan Darvies?Barangkali Minangkabau dalam dunia gagasannya menjadi semacam artefak. Ia mengabadikannya menjadi semacam artefak yang retak-retak. Lalu dari sana muncul ketegangan: antara eksotisme dan kerapuhan. Itulah nasib budaya tradisi di manapun. Tampak gemerlap dan memikat, sekaligus di bawah ancaman kerapuhan. Darvies seperti ingin meminang Minangkabau menjadi pengantinnya dalam dunia impiannya. Agar ia dapat terus berdekatan, bermesraan, mencintainya, sekaligus mengkritiknya dan mencubitnya.

Cinta Darvies pada Minangkabau bukanlah cinta buta. Sebaliknya adalah cinta yang kritis, atau setidaknya meragukan eksistensinya. Ia masih memeluknya, meski, seperti saya sebut sebelumnya, tak lagi dapat membelanya. Karena itulah sesungguhnya Darvies tak dapat menyembunyikan perasaannya yang pesimistik (atas budaya leluhurnya itu). Dan itulah sebenarnya kekuatan karya-karya lukisannya. Ia berbicara tentang Minang yang "terbakar" (terancam hangus), retak dan terkoyak ("Minangku", 1987). Ide-ide yang masih segaris, berkaitan dengan kehidupan tradisi yang mulai memudar, membatu, juga renta dan aus, tentang penari yang mulai tergusur di ambang kesepian ("Selawat Dulang", 1990, "Menanti Giliran", 1997), atau tentang legenda Gumarang dan Binuang yang tinggal kenangan dan menjadi aksesoris belaka ("Mimpi Gumarang dan Binuang",1998). Minangkabau -- juga kehidupan budaya dan tradisi di daerah manapun -- yang mulai renta, rapuh dan terdesak oleh sesuatu yang dianggap "baru". Darvies merekam semua itu. Meski rekaman (karya-karya) dengan warna-warna cemerlang, namun sesungguhnya menyimpan pesan yang muram.

Darvies memutuskan untuk menetap di Yogyakarta (Sejak Nopember 1998) bkan tanpa pemicu. Semula, ia sesekali hanya berkunjung ke Yogya, kota dimana kawan-kawannya tingal dan meniti karir. Ia terus dibujuk-bujuk (sejak tahun 1980) oleh Risman Marah kawan "selapik seketidurannya" sejak bersekolah di SSRI Padang, untuk pindah saja ke Yogya ("di Yogya kau lebih mungkin mengembangkan karir kesenimananmu", bujuk Risman seperti dikenang Darvies). Ia tetap bilang "tidak", karena ingin bertahan di Padang, menhidupkan seni rupa di ranah Minang bersama kawan-kawannya.

Sampai akhirnya ia sedang berada di Yogya, bulan September 1999, ia menerima berita disusul undangan untuk menerima hadiah Anugerah Seni sebagai Perupa Terpilih dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Salinan keputusan tentang hal itu dari Dewan Juri juga sudah ia terima. Atas dorongan dan dukungan Risman Marah, Darvies dapat hadir pada resepsi penerimaan hadiah tersebut. Namun, di luar dugaannya, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia tak mendapat panggilan ke pentas untuk menerima penghargaan itu. Ternyata, baru diketahui sesudahnya, bahwa Panitia Penyelenggara Anugerah Seni membatalkan keputusan Dewan Juri tanpa alasan yang jelas. "Bukan main malu saya, dan sungguh saya sangat jengkel, dan sangat kecewa", kata Darvies mengenang.

Sejak itu tawaran Risman Marah untuk tinggal di Yogya yang semula ditolak, langsung disambutnya. Ia bertekad bulat tinggal di Yogyakarta. Ia ingin melihat Padang, dan budaya Minangkabau dari Yogya, juga dari seluruh sisi Indonesia. Pameran tunggalnya kali ini, 20-28 Januari 2000 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, disamping mewujudkan impian lama, juga bukti dari tekadnya itu. Adakah yang berubah dari karya-karya Darvies sejak itu? "Mari kita lihat bersama beberapa karya terbaru".

Satu hal yang tidak berubah dari karyanya, yaitu kesetiaannya menggunakan idiom Minang sebagai ikon. Namun dari segi muatan dan gagasannya, Darvies berusaha menangkap dan mengungkap berbagai persoalan manusia dan kemanusiaan dalam bingkai lebih luas. Maka disamping rumah-rumah gadang (yang renta dan retak) di seberang buih-buih lautan, gadis-gadis Minang dengan hiasan kepala yang menjulang, ia mengungkap persoalan-persoalan manusia yang aktual. Misalnya tentang hak-hak dan eksistensi perempuan yang ditekan ("Pengebirian", 1999), tentang drama dan tragedi kemanusiaan yang merenggut tanah rencong Aceh ("DOM", 1999, "Senndung Negeriku", 1999, "Setangkai Mawar dari Aceh").

Karya-karya Darvies lebih kaya dalam memainkan ikon; ingatan tentang Ranah Minang yang renta dan kesepian, beradu dengan persoalan-persoalan manusia keseharian. Manusia-manusia di kanvas Darvies adalah manusia-manusia yang mempertanyakan eksistensinya, sekaligus kesepian tanpa nyali. Teronggok bagai batu, dan memposisikan diri sebagai saksi atas segala perubahan yang terjadi. Posisi demikian itu seringkali justru terasa getir.

***

Berhasilkah Darvies meminang Minangkabau? melihat ketekunan dan kesuntukannya mengolah elemen-elemen Minang, tampaknya usaha meminang budaya tradisinya cukup kuat. Sisi lain yang menarik dari karya-karya Darvies adalah, bahwa tampak tak ada tendensi untuk merevitalisasi (seni) tradisi untuk kepentingan eksotisme dan artistik semata. Persoalannya adalah, bagaimana idiom-idiom lokal itu mampu dilemparkan ke permukaan seni rupa kita dan dapat memancing wacana. Yang dibutuhkan adalah kecerdasan mengolah lokalitas untuk menyampaikan persoalan-persoalan yang lebih luas, tentang hidup dan kehidupan, atau tentang manusia dan kemanusiaan. Itulah, saya kira, tema universal-mondial, yang abadi dan tetap menjadi muatan dan kekuatan yang menarik dalam karya seni, bahkan sepanjang masa.

Selamat berpameran, selamat tahun baru 2000, selamat memasuki abad baru, abad XXI, era millenium III, dengan penuh kreativitas, daya hidup, dan penuh kedamaian.

Yogyakarta, Desember 1999 - January 2000

Suwarno Wisetrotomo, Pengamat Seni Rupa, Pengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Yogykarta.

Sumber : Katalog Pameran Tunggal "Perjuangan Total Darvies Rasjidin"

 
Berita Tokoh dan Seniman Lainnya
. In Memoriam KASMAN KS, PEMATUNG MODEREN ITU KINI TELAH TIADA
. Senyum Lukisan Monalisa Dah Ketemu!
. Van Gogh Pelukis Sensasional
. Kesederhanaan yang Serius pada Lukisan Dwi Agustyono
. Menimbang Lukisan Konservasi Amrianis
. Kejelian Amrianis dalam Menangkap Ide
. Menyampaikan Pesan Melalui Garis dan Warna ?
. Al-Quran Menjadi Tema Sentral Lukisan Syaiful Adnan
. Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA. Pendidikan Seni Penting
. Oesman Effendi Menggugat Seni Lukis Indonesia
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 7

No Members are currently logged in.
Advertorial