Pergulatan Budaya dan Perjalanan Kreatif

Oleh Fadli Zon
Minggu, 26 Juni 2011 16:03:17 Klik: 1478 Cetak: 23 Kirim-kirim Print version download versi msword

Desember 2009, penyanyi legendaris Minang Elly Kasim dan Aty Taufiq Ismail menyelenggarakan malam dana untuk membantu penggalangan dana gempa Sumatera Barat. Mereka mencari lukisan untuk dilelang. Saya usulkan untuk mengundang Kamal Guci ke Jakarta karena saya dengar studionya ikut hancur digoyang gempa. Saya sendiri hingga saat itu tak pernah jumpa dengan Kamal kecuali melalui karyanya yang tergantung di rumah saya. Malam itu juga kami mengontak Kamal Guci untuk datang ke Jakarta dan membawa sejumlah lukisannya untuk dipamerkan dan dilelang. Tanggapan Kamal Guci langsung bersedia dan akhirnya beberapa hari kemudian tiba di Jakarta dan menginap di perpustakaan saya selama seminggu. Sebagian lukisannya terjual dan sejak itu kami sering berkomunikasi.

Menyimak dan menelusuri Lukisan – lukisan Kamal Guci paling tidak dapat dianggap merupakan refleksi atas budaya Minang di tengah-tengah kondisi kekinian. Kamal menyampaikan kenyataan apa adanya tentang adat Minang yang tergerus oleh zaman. Globalisasi yang menembus ruang dan jarak juga telah sampai di Minangkabau. Tradisi dan adat istiadat mulai dijauhi dan kebanyakan orang terkesima dengan dunia baru yang penuh gemerlap.

Dunia baru itu telah membuat kampung – kampung terbengkalai. Rumah Gadang (rumah adat) tak ada yang mengurus, atapnya berlubang, pintu dan dindingnya hancur, bahkan sebagian besar posisinya sudah miring hampir menyentuh tanah. Hanya batang ilalang dan lumut yang tinggal disana. Rangkiang (lumbung padi khas minang) juga dililit tanaman liar, tak ada lagi lumbung padi yang bersih terawat menandakan kemakmuran. Kincir air sudah lama tak berputar, ia hanya menjadi artefak bisu yang tak bergerak sama sekali. Sedangkan surau, banyak yang telah roboh. Keadaan ini semakin lengkap dengan bencana yang didatangkan oleh Tuhan. Rumah – rumah yang terbengkalai itu akhirnya rata dengan tanah dihantam gempa yang dahsyat. Lengkaplah penderitaan Minangkabau.

Kekalahan, itulah kata yang dapat mewakili. Kamal Guci melihat glonalisasi ini telah menggilas tradisi yang telah begitu lama dipertahankan. Minangkabau seperti diselimuti awan gelap, kesuraman dan misteri. Bahkan lebih dalam saya melihat, seolah – olah Minangkabau berada dalam kekuasaan sihir modernitas yang dominan. Tradisi menjadi bagian dari masa lalu yang ditinggalkan. Tak ada lagi yang peduli dengan nilai – nilai tradisi, budaya bahkan adat istiadat.

Dalam lukisan Kamal Guci yang menggambarkan kekalahan itu, kita melihat warna-warna yang gelap, mencekam, penuh kengerian, dan kita seakan dipaksa untuk melihat penderitaan. Ini adalah teriakan Kamal Guci dari kampungnya di kecamatan Enam Lingkung, Pakandangan, kabupaten Padang Pariaman sebuah kampung tua yang dikelilingi pohon-pohon tinggi dan rimbun. Kampung itu mungkin salah satu bagian dari masa lalu,  “benteng” tradisi.

Ketika melukiskan masa lalu, Kamal menggambarkan keteduhan, ketenangan, atau kedamaian yang sempurna. Ada rumah gadang yang terurus rapi, ada pedati dengan kerbau, alam yang indah bersahabat. Kesederhanaan yang damai itu seperti kenangan atau mimpi Kamal Guci tentang masa lalu. Itulah gambaran dunia Minangkabau yang diharapkan Kamal, yaitu sebuah dunia yang menyatu dengan alam, namun cukup pangan, sandang dan papan. Dunia seperti itu hanya terjadi kalau masyarakat Minang tak lupa pada tradisi, adat dan budaya Minang pada umumnya. Jika budaya Minang ditinggalkan maka yang terjadi adalah kehancuran dan bencana.

Globalisasi memang memenangkan yang kuat. Ada benturan kebudayaan (clash of culture) yang memungkinkan dominasi yang kuat atas yang lemah. Kehidupan moderen yang serba mudah dan instan dengan gerak cepat semakin menjadi pilihan banyak orang. Mall, supermarket, gedung-gedung tinggi menjulang, merambah dunia sekitar kita. Dalam perbenturan seperti itu, identitas menjadi penting. Identitas menjadi tiang tempat bertahan dari badai globalisasi. Identitas tentunya tak statis, ada reproduksi dan rekonstruksi yang menyebabkan identitas itu tetap relevan dengan zaman.

Kehilangan identitas merupakan sebuah tragedi, karena kita menjadi tuna jati diri. Orang yang tuna jati diri pasti bingung melihat dirinya sendiri dalam menentukan arah mengarungi hidup di dunia globalisasi ini. Karena itu identitas “Minang” adalah modal dalam menghadapi perbenturan kebudayaan. Globalisasi akan semakin adil dan kaya, jika adat, tradisi dan budaya tetap mempunyai tempat yang terhormat di masyarakat.

Saya melihat Kamal Guci telah menemukan koordinatnya dalam perkembangan seni rupa di Sumatera Barat dan Indonesia ditengah-tengah para bintang seni rupa di tanah air asal Sumatera Barat. Setelah lama ditinggal oleh Wakidi dan para pelukis “Mooi Indie,” Kamal Guci boleh dibilang pelukis “Mooi Minang” di baris depan dewasa ini. Bedanya, Kamal tak hanya melukis keindahan alam Minangkabau, tapi juga kehancuran tradisi dan budaya akibat ulah manusianya. Kritik dan kepedulian Kamal patut dihargai sebagai ekspresi emosinya atas perjalanan sejarah Minangkabau. Ia melukis dengan hati-hati, tanpa basa basi. Ia menyetubuhi setiap ruang dan bidang di kanvasnya menjadi irama. 

Kini dalam pameran tunggalnya yang Insya Allah berlangsung dari tanggal 28 Juni hingga 7 Juli 2011 di ruang pameran Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dengan menampilkan puluhan karya dalam berbagai format itu, Kamal Guci menyuguhkan perjalanan kreatifnya.  Saya yakin, ia suatu saat kelak akan menjadi Maestro “Mooi Minang” yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.***

 

 Fadli Zon, Budayawan dan politisi, alumnus The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris, kini mahasiswa S3 Universitas Indonesia. Juga mendirikan Fadli Zon Library di Jakarta dan Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Sumatera Barat.

Dimuat di harian pagi Padang Ekspres, Minggu, 26 Juni 2011 hal 13

 

 

 

 

 

 

 

 
Berita Budaya Lainnya
. EMBRIO SENI RUPA INDONESIA ADA DI SUMATERA BARAT
. LUKISAN DIPANDANG SEBAGAI PROSA ATAU PUISI
. Dr. Adirozal, M,Si : SEPERTI APA MODEL PENDIDIKAN SENI UKIR PANDAI SIKEK ?
. SATU LAGI GALERI SENI RUPA HADIR DI SUMBAR
. Galeri dan Simbol Peradaban Budaya
. EKSPRESIONISME, DISTORSI BENTUK DAN WARNA
. LUKISAN PEMANDANGAN, ATMOSFERIK DAN EKSPRESIF
. Seni Lukis Islam di Tengah-tengah Seni Lukis Moderen
. Kreativitas, Membuka Diri dan Mundurnya Idealisme
. Lingkungan Bermain Hingga Menertawakan Diri Sendiri
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 2

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>           01 02
> 03 04 05 06 07 08 09
> 10 11 12 13 14 15 16
> 17 18 19 20 21 22 23
> 24 25 26 27 28 29 30
> 31            



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012
Mei 2015
Mei 2017
Mei 2018