Kesederhanaan yang Serius pada Lukisan Dwi Agustyono

Oleh Erianto Anas
Senin, 16 April 2007 19:12:00 Klik: 9725 Cetak: 270 Kirim-kirim Print version download versi msword

Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Dimana ada kreatifitas di situ ide-ide tumbuh subur. Dengan modal kesungguhan dan wawasan yang mendukung, tidak sulit mengangkat hal-hal sederhana menjadi sebuah gagasan besar. Sebuah lukisan misalnya, tidak melulu harus menggambarkan objek-objek yang rumit, megah dan canggih. Apa pun dapat dijadikan sebagai objek atau tema. Setidaknya itulah yang terlihat pada lukisan-lukisan Dwi Agustyono.

Lebih dari 50 karyanya sejak awal hingga kini, jarang terlihat ada objek atau vigur yang terlihat dalam realitas sehari-hari. Umumnya karya-karya Dwi Agustyono menggambarkan bentuk-bentuk sederhana seperti bola, pipa dan kotak, tali temali, rantai, kuku, kain dan jejaring. Meskipun pada sebagian kecil lukisannya ditemui gambar vigur seperti kuda, naga, tangan , ataupun kepala manusia, namun vigur-vigur ini bukan dalam citra yang realistik seperti lazimnya lukisan realis, tetapi sudah mengalami transformasi (perubahan) bentuk, yang cendrung agak dekoratif, sehingga bila dilihat sepintas (tanpa kejelian) nyaris identik dengan bentuk-bentuk yang ada di sekitarnya.

Meskipun bertolak dari bentuk-bentuk sederhana, tetapi Dwi Agustyono memperlakukannya dengan sangat serius. Sebagai contoh dapat kita lihat lukisannya yang bejudul Instalasi Keserakahan (cat minyak, 150 x 150 cm/2002) Ia menggambarkan beberapa tumpukan kotak terbuka, yang sebagiannya berisi tengkorak manusia. Kotak-kotak ini dihubungkan dengan tirai kain dan berbagai jejaring melalui pipa-pipa yang terlihat seperti jaringan instalasi. Di sekitar objek utama terlihat berjubel tengkorak manusia memadati lantai. Meskipun keramaian objek lukisan ini terkesan rumit, namun tetap memukau dari sisi artistik. Ini ditunjang oleh detail penggarapan, kontras gelap terang, dan permainan komposisi yang kuat. Dari tampilan lukisan ini tergambar sebuah proses dan perhitungan teknis yang cermat.

Tema lukisan ini, juga tidak segamblang objeknya. Intalasi Keserakahan terasa amat serius dan menohok, sebuah keprihatinan yang amat sangat terhadap kerakusan kekuasaan. Gejala ini tidak lagi bersifat lokal-individual, tetapi sudah merupakan sebuah jaringan global yang terstruktur, canggih dan kuat. Karena itu tidak mengherankan bila jumlah korbannya tidak lagi dalam hitungan satuan tetapi sudah bersifat massal. Ini menyiratkan bahwa Dwi Agustyono bukan hanya bermain-main dengan objeknya, tetapi juga sedang berpikir keras, sedang melahirkan sebuah kritik dan gugatan pedas terhadap fenomena sosial dan politik.

Tema senada juga terlihat pada lukisannya yang berjudul Jihad atau Teror (cat minyak, 95 x 150 cm/2003), sebuah tema yang sangat polemis dan kontroversial. Sebagian pandangan menilai fenomena jihad merupakan suatu gejala kekerasan, tetapi sebagian yang lain tetap meyakini bahwa itu adalah sebuah ibadah suci atas nama Tuhan. Lukisan ini menggambarkan respon Dwi Agustyono terhadap kompleksitas masalah tersebut dari sudut pandang seorang pelukis lewat bahasa rupa.

Lukisan ini di dominasi oleh repetisi (pengulangan) bentuk-bentuk geometris lingkaran dan liukan. Objek utama lukisan ini adalah bayangan sesosok vigur wanita Islami (berjilbab) yang sudah mengalami deformasi (pengkaburan) bentuk. Pada siluet wajahnya tampak 3 lobang gelap menganga. Sekujur sosok ini seakan terjebak dalam jejaring yang berlapis-lapis dan tak jelas ujung pangkalnya. Dengan menggunakan nuansa warna yang monochrome (ungu tua), boleh dikata lukisan ini berhasil membangun aroma teror yang lazimnya terkesan mencekam dan tragedi.

Pada judul Mencari Tempat Tumbuh, tampak Dwi Agustyono sengaja meng-ekspos bulatan-bulatan yang terlihat seperti bola, entah itu buah-buahan atau semcam biji-bijian. Bulatan-bulatan ini seakan baru keluar dari lobang asalnya masing-masing. Sebagian bulatan berwarna hijau dan sebagian berwarna putih. Beberapa bulatan jebol ditembus kuncup daun dan bentuk-bentuk yang kelihatan seperti taring, yang berasal dari dalam bulatan itu sendiri. Lukisan ini tampak sangat minimal dari kerumitan dan atraksi visual. Permain