Minimalis Padang di Lampung

Oleh Erianto, S.Pd
Sabtu, 15 April 2006 14:18:56 Klik: 2409 Cetak: 210 Kirim-kirim Print version download versi msword

Pada bidang kanvas yang cukup luas (190 x 150 cm), hanya tergambar tingkah jari sebuah tangan. Tidak lebih dan tidak kurang. Aksi jari jemari yang berwarna putih ini  hanya berlatar biru yang nyaris datar tanpa objek. Kecuali pada bagian tengah atas tampak setumpuk cahaya yang samar.

Itulah salah satu gambaran dari sebuah lukisan perupa Padang, Amrianis, pada Pameran Seni Rupa Karya Pilihan II di Lampung tanggal 21-26 Maret 2006 yang lalu. Sekilas kalau dilihat dari tampilannya, lukisan ini seakan ingin menggugat  bahwa tak perlu berumit-rumit untuk menyampaikan sesuatu. Satu aksi sebuah jari saja mampu     menyatakan banyak hal. Itulah cara seorang Amrianis memilih simbol untuk lukisannya yang berjudul Ketika Kecil Di Atas yang Besar.

 

Dari 19 karya Perupa Padang yang tampil dalam pameran yang bertajuk Migrasi Tradisi ini,  separohnya boleh dikatakan bercorak  minimalistik. Minimal di sini bukan dalam arti aliran, minimalism, tetapi dari segi padat renggangnya objek, simbol dan warna yang ditampilkan. Apakah ini suatu gejala trendy atau memang sebuah proses pencarian yang alami dari sang seniman, ini tentu membutuhkan kajian lebih lanjut. Meskipun kita tahu bahwa gaya minimalis dalam bidang seni begitu marak akhir-akhir ini.  Untuk seni lukis misalnya, gaya ini  begitu mendapat tempat pada lukisan-lukisan Cina hari ini, dan pasar (publik) pun  merespon dengan antusias. Apakah gejala ini yang mempengaruhi perupa Padang? Apapun jawabannya tentu sah-sah saja. Tetapi yang jelas, ada kecendrungan baru dalam tampilan karya-karya Perupa Padang hari ini.

 

Pada Amrianis misalnya, kecendrungan Minimalistik ini terlihat pada beberapa lukisannya belakangan ini, tepatnya pada lukiasannya yang khusus mengeksplorasi berbagai tingkah jari. Tetapi meskipun minimal dalam tampilan, bukan serta merta minimal dalam pesan. Pada Ketika Kecil  di Atas yang Besar misalnya, judul ini terasa begitu sarkastik, sebuah ironi yang menampar kesadaran alami kita bahwa tidak selamanya yang kecil itu tetap kecil. Kenyataannya kadang justru yang kecil itu bisa lebih berpengaruh bahkan mungkin menentukan. Tetapi kesadaran harfiah kita kadang cendrung menolak kenyataan ini, bahkan hendak mencibir jika tiba-tiba si kecil  menggantikan posisi si besar.

 

Pada bagian lain, Zirwen Hazry hadir cukup menyentak  pada pameran ini. Kanvas besar (145 x 290 cm) tetapi dominan ruang kosong. Lukisan ini terdiri 2 panel. Pada panel pertama tampak seorang bocah sedang tergopoh-gopoh meniti palung-palung  batang pohon. Sedangkan pada panel kedua hanya tergambar tiga buah palung batang pohon yang terletak pada bagian bawah bidang kanvas. Latar  objek hanya bidang kosong dengan warna lembut dan datar. Tanpa gradasi tanpa kedalaman. Nyaris tak ada lagi aksesoris-aksesoris visual seperti pada karya-karya Zirwen pada periode awal (kurun waktu 1995-2004). Tetapi meskipun sunyi dari keributan aksesoris, obkjek yang ada betul-betul digarap dengan sempurna. Citra realistiknya sangat kentara. Dengan menggunakan pencahayaan yang kontras, secara visual lukisan ini cukup menyedot perhatian.

 

Dengan judul Gamang, lukisan ini terang-terngan ingin memperlihatkan betapa sebuah titian adalah sebuah perjalanan yang mendebarkan. “Satu langkah punya arti besar untuk langkah berikutnya!” Demikian Zirwen bertutur dalam deskripsi karyanya. Gamang dimaksudkan bukan sekedar menggambarkan titian biasa, tapi simbolisme dari titian kehidupan. Setiap titian mengandung resiko yang tak bisa sepenuhnya diperhitungakan.   Sosok bocah yang masih lugu dalam lukisan ini seakan menyindir kepolosan kita yang  menapaki kehidupan tanpa perhitungan, tanpa kedewasaan. Mungkinkah seorang Zirwen tengah melukis kegamangannya sendiri?

 

Tampilan lain yang minimalistik juga tampak pada lukisan Dwi Agustyono.Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang cendrung atraktif, kali ini karya Dwi Agustyono hadir dalam bentuk yang simple dan tidak neko-neko. Ada bola-bola yang seperti terhampar dalam ruang kosmos. Tetapi ruang itu terbagi dalam dua suasana yang kontras.  Yang satu tampak subur dan teduh, sedang    pada belahan lain justru kebalikannya. Suasana dasar lukisan ini tampak teduh,    dengan warna birunya yang lembut dan dengan abu-abunya  yang bersahaja. Tidak ada guratan dan warna yang melenceng dari mainstream.

 

Lukisan ini berjudul Anomali (Kausalitas),  145 x 200 cm. Secara tematik lukisan ini seakan ingin bertutur bahwa ada 2 dua kondisi kehidupan yang sangat kontras. Tetapi  berbeda denngan pemahaman umum,   justru situasi yang tidak menguntungkan kadang   bisa menjadi lahan yang lebih subur untuk bertumbuh. Ironis memang, seperti pengakuan Dwi Agustyono sendiri,  bahwa secara alamiah, lahan  yang subur memang menentukan untuk sebuah pertumbuhan. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari,  s