BENTUK, ISI DAN KHAT ARAB DALAM RANAH ESTETIKA

Oleh Muharyadi
Minggu, 09 Oktober 2011 22:23:17 Klik: 2167 Cetak: 24 Kirim-kirim Print version download versi msword

Membaca, memahami kemudian menghayati isi kandungan Al-qur’an dengan terjemahannya merupakan hal yang lumrah dan wajib dilakukan setiap umat muslim di muka bumi ini. Tetapi membaca, memahami kemudian menghayati isi kandungan ayat-ayat suci Al-qur’an untuk kemudian merefresetasikannya kembali melalui ritme sapuan kuas dalam aneka ragam warna pada ranah estetis, merupakan hal yang luar biasa. Ini pulalah yang dilakukan 2 (dua) pelukis kaligrafi senior asal Sumatera Barat Amir Syarif (72 th) dan H. Am. Y Dt. Garang (61 th) melalui pameran kaligrafi Islam di galeri seni rupa Taman Budaya provinsi Sumatera Barat selama hampir sebulan penuh sejak 26 Juli s.d 31 Agustus 2011 ini..

 Puluhan lukisan kaligrafi Islam dalam berbagai ukuran dan dimensi dari kedua pelukis yang berbeda latar belakang pendidikan, Amir Syarif jebolan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan H. Am. Y. Dt. Garang jebolan seni rupa IKIP (sekarang UNP) Padang, terlihat secara umum keduanya melihat hal yang paling pokok dari kaligrafi Islam dengan khatnya yang variatif melalui sapuan warna dan tarikan garis-garisya yang lembut di masing-masing kanvas paling tidak mencitrakan kepada kita akan kebesaran Allah SWT dengan segala ciptaan-Nya di langit, di bumi dan seisi alam. Pada sisi lain unsur fisik dan psikis kedua pelukis di dalam karya-karyanya menggambarkan betapa pergulatan keduas pelukis dalam ranah estetis dengan seperangkat idiom-idiom baru yang ditawarkan.

Selain itu jika kita menyidik puluhan karya kedua pelukis di ruang pameran ini tak dapat dipungkiri bahwa keduanya banyak dipengaruhi dan menggali karya pelukis-pelukis terdahulu kaligrafi Islam di tanah air seperti karya AD. Pirous, Amang Rahmang Jubair, Amri Yahya, Syaiful Adnan dan lainnya. Kemudian kedua karya pelukis selain mengutamakan khat kaligrafi Arab bersumber dari ayat-ayat suci Al-qur’an juga berangkat dari karya-karya lukis ornamental dengan motif-motif obyek yang ada di alam dan seisinya dengan mengutamakan aspek keindahan kaligrafi Islam sebagai totalitas wacana isian karya

Dihubungkan karya kedua pelukis yang digelar kemudian menghubungkannya dengan memaknai Al-qur’an yang penuh kisah-kisah indah tersebut paling tidak terdapat 30 ayat tentang keindahan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena itu bila pelukis muslim bertolak dari ayat-ayat Al-qur’an tersebut maka dalam dirinya senantiasa penuh dengan kalimat tauhid setiap saat, maka lukisannya membuahkan hasil yang bernafaskan Islam atau jauh dari bisikan-bisikan syetan. Kedua pelukis selalu berpegang teguh dengan ayat-ayat Al-qur’an, dengan oriantasi fungsi dan sasaran yang tidak menyimpang dari ajaran agama Islam dan Al-qur’an.

Lihat karya Am. Y, Dt. Garang berjudul Basmallah Merah”/cat minyak 100x70 cm/2011 dan “Ayat Seribu Dinar”/cat minyak/71x71/2011 d besaran lukisan Amir Syarif “Al-Waqiah” (peristiwa besar)/akrilik, 142x185 cm dan “Yasin”/Mixed Media/75x104 cm, terlepas dari bentuk isi dan makna yang dikemukakan dari kandungan ayat-ayat suci Al-qur’an dari sisi fisik dan psikis,  kedua pelukis mengembara dalam warna, garis, komposisi, balance bahkan kesan tekstur yang tertata apik dan dinamis pada backround di ranah estetis karya.

Pengabtraksian khat kaligrafi Arab pada kedua karya pelukis memang diakui belum banyak diolah maupun distilasi sebagaimana yang lazim ditemui pada lukisan kaligrafi Arab AD. Pirous atau Amri Yahya dkk, kemungkinan kegagapan atau pendeformasian bentuk yang naïf terlihat dihindari. Yang hadir kemudian khat-khat Kaligrafi Islam  merujuk pada ayat-ayat Al-qur’an mengalir tertib dan lancar sebagaimana yang dapat kita baca satu demi satu pada masing-masing lukisan Seperti yang bisa kita amati melalui lukisan Am. Y. Dt. Garang berjudul “Basmalah”/cat minyak 70x70 cm/2009 dan karya Amir Syarif “Allah” (Asmaul Husna)/cat minyak/93x147 cm keduanya. Basmalah dengan khatnya yang tajam diimbangi sapuan kuas warna merah penuh ritme dipertegas warna kecoklatan pembentuk komposisi. Persoalannya warna merah, coklat yang meliuk penuh ritme pada kaligrafi “Basmalah” ini peran apa yang ditampilkannya terhadap bacaan Basmalah? Dinamika inilah yang diekplorasi Am. Y. Dt. Garang mempertegas nuansa estetis dikaryanya.

Sementara Amir Syarif pada karyanya “Allah” (Asmaul Husna) mempertegas kebesaran sang Khalik pencipta alam semesta beserta seisinya. Lihat lukisan ini, Amir Syarif tidak semata menawarkan kepada kita sebatas khat yang terkesan padat mengisi bidang dan komposisi, tetapi lebih bernuansa estetis dengan warna-warnanya beridiom “psiko plastik” dan “Ideo plastik”’ dengan pengayaan ornament disana sini, kekuatan Amir Syarif ada disana. 

Bersumber dari Al-qur'an 

Dua puluh tiga lukisan kaligrafi karya H. Am. Y. Dt. Garang dan dua puluh lima karya Amir Syarif yang digelar selama sebulan penuh di galeri seni rupa Taman Budaya Sumatera Barat, jalan Diponegoro Padang itu tentulah bukan seni kaligrafi yang kita kenal secara umum, melainkan seni lukis kaligrafi dengan khat bersumber dari Al-qur’an. Biasanya seni kaligrafi  identik dengan seni tulis indah sementara seni lukis kaligrafi menggunakan kaligrafi sebagai unsur utamanya. Dalam seni tulis indah tulisan bersifat mandiri dan tidak mempunyai peran lain kecuali mengekspresikan arti yang dikandungnya, namun dalam seni lukis kaligrafi tulisan berfungsi sebagai unsur desain sehingga ia bisa saja menjadi tekstur dan dapat pula menjadi bagian dari lukisan yang ditonjolkan sebagai centre of interest..Persoalan inilah yang dijelajahi kedua pelukis dalam kerja lukis-melukis.

Sebagai ilustrasi ringan dalam kitab suci Al Quran ditemui adanya Basmalah yang digunakan sebagai pembuka surat-surat yang huruf Sin-nya diberi lengkungan panjang yang diharapkan agar kalimat Basmalah dapat direntang panjang memenuhi panjangnya garis. Huruf-huruf arab memiliki beberapa corak, kecenderungan penggayaan seperrti kufis dan lainnya dengan karakter tersendiri. Namun Khath atau seni lukis kaligrafi terkenal akan variasinya yang luas dengan karakteris dan wataknya bermacam-macam pula, bisa keras, megah atau luwes dan fleksibel.

Huruf-huruf Kufis yang kaku bahkan keras melalui penggarapan tertentu mampu memberikan kesan megah atau formal lebih-lebih jika diterapkan diatap bahan mar-mar gelap yang banyak dijumpai pada sejumlah bangunan mesjid dan bangunan lain di Timur Tengah seperti makam Sultan Mahmud Al Ghazi Afghanistan, Istana Alhamra Spanyol. Sementara huruf-huruf Thuluth dan terkesan meliuk-liuk cenderung member kesan luwes seperti terdapat di makam Bukhara Persia Timur atau juga di Alhamra atau seni hiasnya.

Namun puluhan karya yang ditampilkan Amir Syarif dan Am. Y. Dt. Garang tentulah bukan seni kaligrafi secara umum yang dikenal luas selama ini, melainkan seni lukis kaligrafi Islam yang berfungsi sebagai unsur disain dalam lukisan, bahkan bisa menjadi tekstur dan bahkan menjadi bagian lukisan yang ingin ditonjolkan sebagai centre of interest dengan berbagai teknik yang selama ini mewarnai kancah seni lukis kaligrafi Islam di tanah air dari berbagai angkatan periodesasi seniman yang terlibat di dalamnya dengan kecendrungan seni lukis kaligrafi Islam huruf-huruf yang dimanfaatkan adalah huruf Arab yang terkenal akan fleksibilitasnya untuk menyesuaikan diri dengan kehendak pelukisnya, misalnya dalam mengisi bidang-bidang persegi panjang, bulat serta bentuk-bentuk lainnya atau mungkin untuk direntang, diliukkan tanpa mengubah arti, fungsi dan makna huruf-huruf Arab itu sendiri dengan beberapa gaya dan corak seperti huruf-huruf kufis, tsuluth, naskhi, farisi yang memiliki karakter sendiri-sendiri. Hal ikhwal inilah yang dijelajahi kedua pelukis dalam pamerannya kali ini ***

Muharyadi, pendidik, kurator dan penggiat seni rupa tinggal di Padang

Tulisan ini dimuat di harian Pagi PADANG EKSPRES, 27 Agustus 2011 hal 19

 
Berita Pameran Lainnya
. Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan
. 354 Seniman Tampilkan Karya di Manifesto
. Dari Mana Pentagona?
. Pengaruh Gempa Terhadap Pameran Seni Rupa
. Membedah Bocah Zirwen
. Dari Realisme Hingga Religiusitas
. Genta Plus, Ideologi Kreatif, dan Paguyuban
. Minimalis Padang di Lampung
. Kritikus Seni Rupa Cenderung Tak Obyektif
. Meminang Minangkabau yang Mulai Membatu
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 3

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>         01 02 03
> 04 05 06 07 08 09 10
> 11 12 13 14 15 16 17
> 18 19 20 21 22 23 24
> 25 26 27 28 29 30  



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012
Mei 2015
Mei 2017