Realis Minimalis Menjadi Trend Karya Pelukis Muda

Oleh Muharyadi
Selasa, 22 Juli 2008 09:30:36 Klik: 7731 Cetak: 177 Kirim-kirim Print version download versi msword

Kecenderungan penggayaan/style yang berubah-ubah dalam seni lukis Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir terutama bagi kalangan pelukis muda adalah sebuah dinamika dalam berkesenian – terutama seni rupa – untuk mencari idiom-idiom baru kerja lukis-melukis. Lantas apa yang sedang mereka cari? Jati dirikah, eksistensi atau konsekwensi pelukis ditengah derasnya persoalan global berkesenian. Inilah yang ingin kita cari tahu.

Dalam pameran lukis Pekan Budaya Sumatera Barat 2008 yang baru saja usai digelar mayoritas lukisan anak-anak muda berkiblat pada kecenderungan penggayaan/style realis minimalis sebagai trend. Dicari rujukannya realisme berarti melukiskan sesuatu yang bersifat nyata dari keadaan yang seperti apa adanya, atau lebih bersifat kerakyatan, dimana rakyat biasa pada waktu-waktu terdahulu tidak pernah menjadi objek lukisan seniman. Obyek itu kini dibuat sesederhana mungkin bahkan minimalis seperti mayoritas karya yang dipajang.
 Hal yang menarik pula dari berbagai literatur menyebutkan realisme sebenarnya merupakan reaksi dari adanya kecenderungan penggayaan/style romantisme yang dalam menggambarkan sesuatu digambarkan secara berlebih-lebihan kemudian menggambarkan peristiwa dan kegiatannya dikemas lebih sederhana mungkin baik obyek, warna, bidang, ruang dan aspek-aspek lain diluar persoalan teknis seperti masalah kejiwaan yang menjadi esensi penting dalam seni lukis tak terkecuali seni lukis moderen dan kontemporer sekalipun.
Dikaitkan dengan apa yang kita saksikan, kita amati bahkan kita hayati secara hakiki pada mayoritas lukisan pelukis muda di arena Pekan Budaya Sumatera Barat 2008 kemarin, persoalan yang ingin dikemukakan dalam kerja lukis-melukis tentulah tidak sebatas kecenderungan penggayaan/style yang digeluti dalam kanvas dengan komposisi warna, ruang dan bidang serta obyek yang ada dibuat secara apik dan enak dipandang mata. Diluar persoalan estetika, masalah tema maupun konsep karya yang menjadi sangat penting ternyata ikut terabaikan.
Dinamika kecenderungan penggayaan/style seperti ini yang kini merambah dunia seni lukis Sumatera Barat, saya pun menjadi teringat apa yang pernah terjadi di Jakarta hampir 14 tahun silam setelah booming seni lukis melanda tanah air soal penggayaan/style kerja lukis melukis yang orientasinya kebih berkiblat pada kebutuhan pasar/konsumen dan galeri untuk menjadikan lukis sebagai komoditi bernilai tinggi.
Dalam harian pagi Kompas, 21 Oktober 1994 menyebutkan adanya kecenderungan yang terjadi selama ini, jika merujuk pada “Dekoratif Utara, Surealisme Selatan” maka penggayaan/style pelukis tergantung pada tingkat kebutuhan konsumen, hal ini dimaksudkan penggayaan dekoratif condong dipakai oleh pelukis di daerah utara dikarenakan tingkat kebutuhan konsumen akan gaya/style tersebut cukup tinggi, sementara di daerah selatan penggayaan surealisme banyak dianut oleh pelukis dikarenakan juga karena masyarakat yang mencintai seni lukis sangat selektif dan lebih condong pada aliran surealis ini. Namun hal ini bukan berarti merendahkan salah satu penggayaan/style yang dianut oleh pelukis, tetapi ditentukan karena tingkat kebutuhan masyarakat akan seni lukis itu sendiri.
Bahkan yang mencengangkan dari penjualan lukisan tersebut adalah “adanya konsumen yang membeli lukisan dikarenakan gengsi ibu-ibu rumah tangga yang kurang kerjaan ramai-ramai bergiat keseni lukis”. Padahal tidak semua konsumen memahami apa dan bagaimana penggayaan/style yang dianut pelukis atau lukisan yang mereka koleksi.
Pertanyaan sekarang apakah penggayaan/style realis minimalis yang mewarnai mayoritas karya pelukis muda pada pameran Pekan Budaya Sumatera Barat 2008 itu sengaja membidik konsumen atau galeri yang kini mulai bermunculan atau sebagai bentuk bungkusan betapa sulitnya menentukan tema maupun konsep yang menjadi persoalan hakiki dalam seni lukis seperti rata-rata kita saksikan pada karya pelukis muda yang tumbuh bak cendawan di Sumatera Barat? *** (Muharyadi)  

 

 
Berita Wawasan Seni Lainnya
. Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan
. Putusnya Rantai Sejarah Budaya
. Bentuk, Kreativitas dan Penjelajahan Kemungkinan
. Typography-Pendahuluan
. Beowulf: Pahlawan Animasi Senyata Manusia Asli
. Raden Saleh, Seniman dan Bangsawan
. Bernilainya Seni
. Seniman Antara Idealisme dan Pasar
. Pengertian Seni Secara Umum dan Sejarahnya
. Kritikus Seni Rupa Jembatan Masyarakat?
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 5

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>         01 02 03
> 04 05 06 07 08 09 10
> 11 12 13 14 15 16 17
> 18 19 20 21 22 23 24
> 25 26 27 28 29 30  



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012
Mei 2015
Mei 2017