Membedah Bocah Zirwen

Oleh Erianto
Sabtu, 03 Maret 2007 20:57:18 Klik: 3767 Cetak: 85 Kirim-kirim Print version download versi msword

Mari kita lihat lukisan Zirwen Hazry yang berjudul Menguji Kesabaran. Lukisan ini tampak sangat minimalistik, baik dari segi objek maupun teknik penggarapan. Lukisan ini menggambarkan seorang bocah perempuan yang sedang bergantung sebelah tangan pada seutas tali. Sedangkan sebelah tangannya yang lain sedang berusaha menjangkau sebuah kemasan plastik yang mengapung di permukaan air. Sang bocah harus ekstra hati-hati agar bisa mendapatkan apa yang diinginkannya sekaligus juga waspada agar tidak terpeleset dan jatuh, karena kakinya hanya bertumpu pada sebuah dus indomie.

Lukisan ini merupakan salah satu lukisan terbaru Zirwen Hazry (2006) yang lolos seleksi (oleh Mamamnnoor, kritikus dan kurator dari Bandung) untuk mengikuti Pameran Lukisan Karya Para Pelukis Sumatera Barat di Semar art Gallery Malang pada akhir Maret 2007 mendatang. Lukisan berukuran 145 x 145 cm ini menggunakan material kanvas dan cat acrylic.

Zirwen Hazry adalah seorang pelukis muda ranah Minang yang namanya sudah tidak asing lagi dalam dunia seni lukis Sumatera Barat, bahkan sudah mulai dikenal di tingkat Nasional. Ia sudah aktif melukis dan pameran di beberapa kota di tanah air sejak tahun 1990, semenjak ia masih kuliah di jurusan Seni Rupa IKIP Padang. Ia juga pernah mengikuti pameran bersama para pelukis Indonesia di Malaysia dan China. Pada tahun 1997 ia menjadi pemenang lomba lukis potret pejuang tingkat Sumatera Barat yang diadakan di Museum Adityawarman Padang. Ia pernah meraih posisi sebagai 10 besar pemenang sayembara seni lukis tingkat Asean (Asean Art Awards) pada tahun 2003 yang diadakan di Jakarta.

Seperti biasa, pada Menguji Kesabaran ini, Zirwen kembali menunjukkan kebolehannya. Melihat garapan objek yang sangat realistik dan detail yang mengangumkan, ia tampaknya sangat menguasai teknik menggambar dalam arti yang sesungguhnya. Berbagai kaidah keseni-rupaan (komposisi, keseimbangan, warna dan fokus misalnya) tampak bgitu diperhitungkan secara cermat, tidak seperti cara kerja pada lukisan-lukisan yang banyak mengandalkan emosi dan intuisi.

Lukisan ini mengingatkan kita kepada karya-karya Dede Eri Supria, Melodia, Sucipto Adi dan Sigit Santoso. Dalam pemetaan Agus Dermawan T, mereka ini termasuk pentolan seni lukis realisme photo di Indonesia, yang dinilai merupakan anti klimaks dari seni lukis abstrak atau pun jlebret art (lelehan cat). Dengan mengandalkan kemampuan menggambar yang luar biasa, mereka melukis bagaikan kamera merekam objek photo. Dan umumnya mereka memang menggunakan foto sebagai alat bantu (model) utama dalam melukis. Sebelumnya, kebangkitan seni lukis realis dengan gaya baru ini (realisme photo) sudah marak di Amerika pada tahun 70-an. Di Sumatera Barat, kecendrungan ini terlihat kentara pada Zirwen Hazry dan Hanafi.

Meskipun secara visual tampak sangat realistik, namun lukisan ini cukup memancing nalar empirik kita (logika sehari-hari). Seutas tali, tempat sang bocah bergantung, tidak jelas entah terpaut dimana. Sebuah dus yang bagian bawahnya terendam air, seakan tak bergeming saat diinjak. Bila diamati dengan cermat sang bocah tampak seperti sedang beracting ketimbang bergerak secara refleks. Artinya dengan segenap kemolekannya, lukisan ini tampak bagai sebuah panggung drama ketimbang sebuah kenyataan yang alami.

Sebagimana juga karya seni lainnya, realitas dalam lukisan juga tidak harus kenyataan objektif (yang sebenarnya), bisa jadi apa yang digambarkan hanyalah sebuah dunia imajiner ( kesan/khayali) atapun dunia simbolik (perumpamaan). Tentu saja ini adalah sebuah pilihan. Bocah dalam lukisan ini justru bisa berarti simbol inti kesadaran manusia yang pada hakikatnya jujur dan polos. Kemasan plastik ibarat sebuah impian, harapan, cita-cita atau pun prestasi. Tali tempat bergantung bagaikan modal dan bekal dasar yang dimiliki seseorang. Sedangkan dus dan pijakan sang bocah merupakan tumpuan atau langkah yang penuh cobaan dan tantangan. Di sini Zirwen seakan bertutur, bahwa disadari atau tidak, manusia pada prinsipnya selalu berada diantara 2 ketegangan. Ia harus selalu melangkah dan menggapai, tetapi sekaligus juga harus berhati-hati dan waspada. Setiap gerakan (langkah) sangat menentukan dan setiap saat resiko selalu mengintai. Melalui lukisan ini, diam-diam, Zirwen seakan mengusik dan mengajak kita untuk mawas diri: Bukankah kesabaran sudah menjadi barang langka di zaman serba cepat seperti sekarang ini?

Dapat dikatakan, Zirwen dalam lukisan ini seakan berusaha meraih sisi lain selain keindahan semata. Dari judulnya, amat kentara upayanya mengusung sebuah tema yang sebenarnya cukup sulit digambarkan, tetapi ia berhasil menyajikannya secara gamblang. Begitu melihat lukisan ini dan membaca judulnya, kita langsung mengerti tanpa harus mengalami ketengangan antara rupa dan makna. Dan memang, kesan lukisan ini lebih kentara pada sensasi artistik (penonjolan keindahan) ketimbang pada ketegangan simbolik (kegelisahan dalam menangkap makna).

Biaro, 18 Februari 2007

Erianto Anas
(Guru Seni Rupa SMK N 1 Ampk Angkek)

 
Berita Pameran Lainnya
. BENTUK, ISI DAN KHAT ARAB DALAM RANAH ESTETIKA
.